ID ENG

Untuk Memperkuat Posisi Tawar, Ini Beberapa Agenda Yang Bakal Dikerjakan FSB GARTEKS

Tanggal Publish: 21/01/2022, Oleh: DPP FSB Garteks

Ciri khas serikat buruh yang militan dan terdidik adalah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Serta mempersiapkan kader-kadernya memiliki inisiatif menjalankan kegiatan organisasi. Nah, tahun ini Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri (FSB GARTEKS) sedang merancang agenda isu kampanye, advokasi dan program pendidikan.

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum DPP FSB GARTEKS mengatakan ada beberapa agenda strategis yang bakal dikerjakan. Diantaranya, semakin memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) untuk buruh perempuan di serikat buruhnya, melalui pelatihan kepemimpinan. Lalu mengawal inisiatif Rancangan Undang-undang tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) yang tahun ini siap dibahas oleh DPR RI.

“Saya berharap tahun ini RUU TPKS segera diketok palu oleh DPR. Karena, kekerasan seksual di negara kita payung hukumnya belum begitu kuat,” ucapnya, saat diwawancarai beberapa waktu lalu, di Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Menurut Ary Joko, korban kekerasan seksual itu sangat banyak menimpa buruh perempuan yang bekerja di sektor garmen, tekstil, dan kulit maupun sektor usaha lainnya. Mereka yang menjadi korban pun selama ini tidak bisa efektif diselesaikan cara hukum. Oleh sebab itulah, tahun ini FSB GARTEKS akan tetap mengawal proses pembahasan RUU TPKS dan mendesak segera disahkan.

“Kalau nantinya RUU TPKS disahkan, maka kami bisa bersama-sama melawan kejahatan kekerasan seksual melalui kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara perwakilan Pengurus Komisariat (PK) FSB GARTEKS dengan mitra perusahaan kami,” jelasnya.

Untuk konsentrasi pengembangan organisasi, Ary Joko menyampaikan tahun ini menguatkan konsolidasi dan kemampuan tim organiser dalam perekrutan anggota. Ada beberapa wilayah yang diprioritaskan untuk didirikan cabang. Seperti dibeberapa kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Termasuk meningkatkan data base keanggotaan dan iuran anggota agar lebih rutin.

“Pelatihan untuk meningkatkan SDM ditiap cabang tahun ini tetap berjalan. Karena, syarat untuk membesarkan serikat buruh itu harus didukung SDM yang berkwalitas,” pungkasnya.

FSB GARTEKS juga tetap mengawal proses revisi omnibus law Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 Tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) pasca putusan uji materi Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI). Pasalnya, hasil putusan Hakim MKRI, memerintahkan undang-undang ini harus di revisi DPR selama 2 tahun.

“FSB GARTEKS bersama serikat buruh/serikat pekerja lainnya akan memantau dan mengawal ketat proses revisi pasal-pasal yang bermasalah dalam UU Cipta Kerja. Kalau aktivis buruh tidak dikawal, bisa saja nanti akan menjadi masalah baru,” ucapnya.

Selain itu, FSB GARTEKS tetap konsisten melakukan kampanye kebebasan berserikat di perusahaan. Sampai hari ini, masih banyak pelanggaran kebebasan berserikat dan pengusaha masih anti dengan serikat buruh. Bahkan, saat serikat buruh itu hadir di perusahaan, banyak pengurus dan anggotanya korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak.

“Padahal gerakan kami itu tidak pernah menganggap pengusaha itu sebagai musuh. Tapi selalu mengedepankan mitra dalam agenda sosial dialog. Dimana tujuannya untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis dilingkungan kerja,” ungkapnya.

Kemudian, tahun ini dia juga semakin memperkuat advokasi berbasiskan data melalui media. Sebab data-data ini sangat penting untuk memperkuat argumentasi saat mengkampanyekan ke mitra-mitranya. Baik di lintas serikat buruh/serikat pekerja, pemerintah maupun mitra FSB GARTEKS ditingkat internasional.

“Tahun ini FSB GARTEKS banyak pekerjaan rumah, tapi harus dikerjakan,” tandasnya. (AH)