ID ENG

Terkait Kasus PHK Sepihak, Aktivis Buruh FSB GARTEKS Tangerang Raya Desak Manajemen PT. ULI Tidak Bersikap Arogan

Tanggal Publish: 17/01/2022, Oleh: DPP FSB Garteks

Hampir mendekati 1 tahun, masalah perselisihan ketenagakerjaan antara Pengurus Komisariat Federasi Serikat Buruh Garmen Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri di PT. Universal Lugagge Indonesia atau PK FSB GARTEKS PT. ULI Kabupaten Tangerang Banten  dengan manajemen perusahaan belum ada solusi. Padahal, perwakilan serikat buruh telah berinisiatif menyelesaikan masalah ini melalui sosial dialog.

Haryadi Ketua PK FSB GARTEKS PT. ULI saat diwawancarai melalui seluler mengatakan pihaknya sebenarnya sudah beberapa mengajukan proses mediasi. Namun, pihak perusahaan selama ini terkesan mengabaikan. Beberapa waktu lalu, dia juga sudah mengirimkan surat kunjungan resmi ke perusahaan untuk berdialog. Tapi sayangnya, niatan baik ini masih belum disambut baik.

“Sampai hari ini kami tidak tahu alasan manajemen perusahaan yang selalu menolak kami waktu diajak berdialog. Setiap diajak bertemu, mereka terkesan selalu menghindar dengan berbagai alasan,” ucapnya, Senin (17/1/2022).

Kata Haryadi, dilingkungan perusahaan ini sebenarnya ada beberapa perwakilan serikat buruh/serikat pekerja yang sudah lama berdiri. Pengurusnya pun sering berdialog dengan manajemen perusahaan. Sementara, serikat buruh FSB GARTEKS terkesan didiskriminasikan dan ada dugaan kuat terjadi pemberangusan serikat buruh. Karena akses untuk berdialog selama ini memang tidak diberikan.

Dia menceritakan, pada bulan Oktober 2021 lalu, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Tangerang telah menerbitkan rekomendasi terkait perselisihan yang terjadi. Dimana, hasil anjuran yang dikeluarkan adalah, 14 orang pengurus PK FSB GARTEKS PT. ULI harus dipekerjakan kembali seperti status sejak awal. Kemudian selama proses perselisihan, pihak perusahaan wajib memberikan upah bagi buruh yang terkena Pemutusan Hubungan (PHK) sepihak.

“Tapi hasil putusan anjran tersebut juga masih diabaikan manajemen perusahaan. Mereka menyampaikan akan tetap menantangnya sampai proses hukum di Mahkamah Agung,” ungkapnya.

Mengingat pihak perusahaan tidak mematuhi surat anjuran dari Disnaker Kabupaten Tangerang, Haryadi mengatakan dia bersama Dewan Pengurus Cabang (DPC) FSB GARTEKS Tangerang Raya akan tetap berjuang. Karena dia yakin, dirinya bersama pengurus lainnya waktu mendirikan PK FSB FSB GARTEKS PT. ULI sudah melalui undang-undang yang berlaku.

Dia juga membeberkan masyarakat disekitar lingkungan PT. ULI merasa kecewa. Pasalnya, perusahaan tidak menepati perjanjian yang sudah disepakati. Bahwa, ketika perusahaan sudah beroperasi, maka 70 persen warga setempat harus dilibatkan bekerja.

 “Tapi info yang kami terima, justru pendatang dari luar yang dominasi bekerja. Sementara warga lokal terkesan tidak diberi kesempatan. Karena mungkin memang ada oknum-oknum perusahaan yang sengaja bermain,” ungkapnya.

Saat ini Haryadi sedang menunggu surat kunjungan kerja dari DPC FSB GARTEKS Tangerang Raya untuk melakukan dialog dengan perusahaan. Kalau nantinya, tawaran dialog masih ditolak oleh manajemen perusahaan, maka akan ada upaya dan langkah yang segera dilakukan.

“Kami akan mengirimkan surat teguran secara resmi ke perusahaan dan kemungkinan besar bakal demo lagi di PT. ULI,” tegasnya.

Intinya, dia mengatakan PK FSB GARTEKS PT. ULI sebenarnya lebih memilih penyelesaian masalah tersebut dengan cara sosial dialog. Karena, tujuan serikat buruhnya hadir di perusahaan ini bukan ingin membuat permusuhan. Tapi ingin menciptakan hubungan industrial yang harmonis.

“Ada 14 orang dari pengurus PK FS PK FSB GARTEKS PT. ULI yang di PHK sepihak oleh perusahaan, Dan kami akan tetap berjuang membela hak-hak kami yang telah dirampas,” tutupnya. (AH)