ID ENG

Terdampak Stres Selama Wabah Corona, Apa Solusinya?

Tanggal Publish: 20/09/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Pada Juni 2020 lalu,  PPM manajemen mengeluarkan hasil survei terkait dunia kerja ditengah pandemi Covid-19. Survei yang dilakukan ini lebih fokus untuk mengetahui mempelajari dampak buruh/pekerja yang mengalami gejala stres selama wabah Corona yang belum tahu kapan segera berakhir.    

Maharsi Anindyajati Psikolog dan Head of Center for Human Capital Development PPM Manajemen mengatakan setelah dilakukan survei, hasilnya terdapat 80 persen pekerja mengalami gejala stres selama masa pandemi Covid-19, dari tingkat rendah, sedang sampai tinggi.

“Mereka yang mengalami gejala stres pada dari usia 26-35 tahun sebesar 43 persen. Kemudian usia 36-45 tahun sebesar 79 persen. Lalu dibawah bawah usia 25 tahun terdapat 78 persen,” ujarnya.  

Dia juga menjelaskan mayoritas stres yang dialami peserta survei tentang kekuatiran mengenai kesehatan dirinya serta anggota keluarga mencapai 59 persen. Kemudian takut terinfeksi virus corona, mencapai 56 persen.

“Termasuk pandemi Covid-19 yang berdampak pada kelangsungan usaha akibat memikirkan keberlangsungan usaha/bisnis juga terbilang tinggi,” jelasnya.

Kebijakan perusahaan menerapkan bekerja di rumah atau work from home (WFH) juga memiliki dampak, sebesar 48 persen. Serta kebijakan supaya lingkungan kerja aman dari penyebaran virus mencapai 38 persen. Untuk mengatasi gejala stress, Maharsi menyarankan pekerja harus bisa mengelola stres dengan baik. Contohnya, bagi yang WFH harus rutin olahraga, memasak dan ngobrol lepas bersama keluarga.

Hal senada juga disampaikan Feni Sriwahyuni  Psikolog Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru. Dia menuturkan selain korban, Covid-19 juga mengakibatkan dunia mengalami krisis kesehatan dan ekonomi. Sebab, segala bentuk aktivitas manusia saat ini mengalami pembatasan kerja, sekolah, pelayanan kesehatan dan lainnya.

“Dampak dari persoalan ini menimbulkan rasa panik, takut dan kecemasan ditengah masyarakat. Kalau dibiarkan terus akan tidak baik untuk kesehatan jiwa. Masyarakat harus bisamengelola stres disaat pandemi dan pembatasan sosial yang sedang terjadi,” ujarnya.

Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami stres, terutama dimasa pandemi Covid-19 ini? dia mengatakan diantaranya memiiki takut berlebihan, sehingga berpikir tidak rasional. Selalu berpikir negatif terhadap tanda-tanda penderita. Termasuk mencari berita tentang Covid-19 yang berlebihan, dan tidak dapat memilah berita yang akurat dapat memunculkan cemas berlebihan.

Dijelaskannya, dalam situasi ini sangat dibutuhkan mengelola manajemen stres. Tujuannya untuk mengendalikan stres. Sebab seorang yang mengalami gejala stres memiliki dampak terhadap imunitas tubuh. Baik secara psikis maupun fisik.

“Jadi, berpikir positif merupakan kunci menghindari stres. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan, seperti melakukan segala bentuk  kegiatan positif dan berkomunikasi bersama keluarga dirumah, mengikuti anjuran protokol kesehatan, menjaga imunitas tubuh, serta melakukan kegiatan sosial,” ujarnya.

Dia mengingatkan orang yang mengalami stres tingkat tinggi sangat mempengaruhi kesehatannya. Parahnya, kalau stres ini sudah masuk tahap kronis akan menimbulkan menimbulkan gejala penyakit seperti migrain, penyakit jantung dan stroke, diabetes, tekanan darah tinggi, depresi, dan gangguan kecemasan.

“Dan ikut berpengaruh pada individu yang sudah memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya,” ungkapnya.

Terakhir, jika seseorang memiliki ciri-ciri gejala tingkat stres tinggi dan sudah cukup lama dimasa pandemi Corona, maka ada baiknya segera berkonsultasi ke profesional. Sebab, jika tidak dapat ditangani dengan tepat dan cepat, bisa berdampak menurunnya kesehatan fisik dan mental seseorang. (AH/berbagai sumber)