ID ENG

Tahun Depan FSB GARTEKS KSBSI Fokus Penguatan SDM

Tanggal Publish: 18/12/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri-Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DPP FSB GARTEKS-KSBSI) mengatakan pada 2021 ini merupakan tantangan berat serikat buruh/serikat pekerja. Pasalnya, situasi Indonesia masih dihadapkan status pandemi Covid-19 dan nasib buruh masih penuh ancaman.

“Kasus pemberangusan serikat buruh (union busting), Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak, buruh dirumahkan dan upahnya dipotong masih marak terjadi, akibat dampak pandemi,” ucapnya, beberapa waktu lalu di Cipinang Muara Jakarta Timur.

Selain itu, putusan formil dari uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI) juga dinilainya mengecewakan buruh. Sebab, keputusan Hakim MKRI mengatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat dan harus segera direvisi selama 2 tahun. Bagi buruh, keputusan ini sangat abu-abu.

“Putusan tersebut saya nilai justru hanya menimbulkan masalah baru, diantaranya tentang status pekerjaan buruh di perusahaan dan soal upah layak,” jelasnya.

Mengingat masa depan buruh sedang tidak ada kepastian, dia mengatakan serikat buruh harus menyikapi masalah ini, tidak boleh mundur. Salah satunya, FSB GARTEKS KSBSI dalam memperjuangkan upah layak melalui  Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ditingkat perusahaan. Lalu melakukan penguatan agenda sosial dialog ke perwakilan pemerintah dan pengusaha.

Menjelang akhir tahun 2021 ini, Ary Joko menyampaikan serikat buruhnya telah berusaha keras memberikan pelatihan kepada pengurus dan anggota, membesarkan organisasi serta membangun mitra internasional dan nasional. Termasuk, tetap menjalankan agenda sosial dialog dengan pihak terkait untuk mencari solusi masalah ketenagakerjaan ditengah pandemi Covid-19.

“Tahun ini, FSB GARTEKS KSBSI bersama Aliansi Pekerja Buruh Garmen Alas Kaki dan Tekstik (APBGATI) semakin memperkuat diskusi dengan perwakilan organisasi pengusaha seperti APINDO, APRISINDO, API, birokrasi pemerintah, DPR serta ILO, IndustriAll, AFWA, CNV International, TURC serta mitra lainnya,” kata Ary Joko.

Dia mengakui, sejak tahun 2020 sampai 2021, proses pengkaderan untuk pengurus dan anggota kurang maksimal dijalankan. Kalau pun ada kegiatan, hasilnya tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan karena situasi masih pandemi, sehingga segala aktivitas berkumpul dibatasi pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Namun, kalau pada 2022 nanti situasi pandemi memulih, FSB GARTEKS KSBSI akan fokus pada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). Nantinya, pengurus, anggota dari tingkat cabang dan Pengurus Komisariat (PK) akan rutin dibekali pelatihan manajemen organisasi, advokasi, komunikasi sosial dialog.  

“SDM itu aset dan sangat penting bagi serikat buruh. Kalau kader-kader FSB GARTEKS KSBSI memiliki kemampuan intelektual memimpin organisasi, maka posisi tawarnya sangat kuat dimata pemerintah, pengusaha dan serikat buruh,” ungkapnya. (AH)