ID ENG

Sikap DPP FSB GARTEKS Pada Perayaan May Day 2021

Tanggal Publish: 30/04/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum DPP Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri (FSB GARTEKS) mengatakan agenda May Day 2021, tidak turun ke jalan untuk aksi demo. Pasalnya, pandemi Covid-19, memaksa segala kegiatan serikat buruh harus patuh terhadap protokol kesehatan (Prokes). Dan menjauhi kerumunan massa yang bisa menyebabkan penularan virus Corona lebih tinggi.

“Perayaan May Day tahun kedua pandemi ini, FSB GARTEKS lebih memilih fokus pada kegiatan bakti sosial, santunan kepada anak yatim piatu, refleksi gerakan buruh. Serta melakukan pendidikan kepada pengurus dan anggota,” ucap Ary Joko saat diwawancarai melalui seluler, Jumat (30/4/21).

Dijelaskannya, FSB GARTEKS pada bulan Ramadhan dan menyambut May Day telah melakukan berbagai kegiatan sosial di perwakilan cabang. Lalu melakukan kajian diskusi dalam menyikapi dampak Undang-Undang Cipta Kerja serta turunan Peraturan Pemerintah (PP), menyikapi Peraturan Menteri (Permen) dan Surat Edaran (SE) terhadap buruh.

Artinya, dimasa pandemi, FSB GARTEKS tidak boleh diam ditempat, namun harus tetap bergerak. Seperti melakukan advokasi kepada anggota yang sedang menghadapi persoalan hubungan industrial. Kemudian tetap konsisten melakukan pengorganisiran buruh untuk menambah jumlah cabang dan anggota.

“Saat awal terjadi pandemi tahun lalu atau puncaknya dari bulan Mei-September 2020, anggota kami memang menurun drastis sampai mencapai 10 ribu orang lebih. Sebagian besar mereka terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan. Dengan alasan perusahaan terdampak krisis keuangan akibat pandemi,” jelasnya.      

Namun berhubung pemerintah telah menjadikan tahun ini adalah pemulihan ekonomi. Jadi ancaman kekurangan anggota tidak begitu dikhawatirkan. Sebab, dibeberapa cabang FSB GARTEKS, pun sudah mulai ada penambahan anggota, walau tidak begitu signifikan.

“Semoga saat pemerintah fokus pemulihan ekonomi dan membantu kelangsungan dunia usaha bagi pelaku bisnis, perusahaan tidak lagi melakukan, khususnya di sektor industri padat karya. Jadi FSB GARTEKS kembali fokus untuk membesarkan organisasi,” pungkasnya.

Bersikap Bijak

Terkait agenda pengorganisiran, Ary Joko menyampaikan pada 2021 ini mulai menarget dibeberapa daerah industri baru untuk menambah cabang dan anggota. Seperti dibeberapa kabupaten wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Karena itu, peran media sangat dibutuhkan untuk memperkenalkan profil FSB GARTEKS kepada buruh yang belum bergabung melalui pemberitaan.

Terkait agenda sosial dialog dengan perwakilan pemerintah, pengusaha (APINDO) dan serikat buruh/pekerja, dia menjelaskan program tersebut sebenarnya sudah ada titik terang. Contohnya, dengan adanya kesepakatan atau ‘join comitmen’ tentang jaminan pengusaha dan buruh di masa pandemi sebenarnya telah membawa terobosan baru.

“Sebab perwakilan pemerintah, pengusaha dan serikat buruh/pekerja sepakat untuk meminimalisir masalah PHK dan mencari solusinya. Supaya kelangsungan bisnis industri padat karya tetap berjalan. Saya pikir agenda join comitmen ini memang menjadi kebutuhan semua pihak,” bebernya.

Waktu ditanya, apakah pemerintah sudah maksimal bekerja mengatasi soal ketenagakerjaan akibat dampak pandemi Covid-19, dia menjawab sudah berusaha bekerja, walau belum terlihat cepat. Ia menilai, pemerintah memang penuh pertimbangan dalam memutuskan kebijakan terkait urusan ketenagakerjaan.

“Walau disatu sisi, aktivis buruh/pekerja sering protes dan menganggap kebijakan pemerintah tidak adil buat buruh. Seperti terbitnya Surat Edaran masalah Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan, upah minimum provinisi dan kabupaten/kota maupun keputusan lainnya,” ujar Ary Joko.

Dalam situasi ini, Ary Joko berpendapat sebaiknya aktivis serikat buruh/pekerja harus bisa bersikap objektif. Sebab, pemerintah sendiri juga harus memikirkan kelangsungan dunia usaha agar pulih sepenuhnya. Supaya nantinya, roda perekonomian berjalan normal dan lapangan kerja terbuka kembali.

“Artinya kondisi Covid-19 yang tak memihak pada buruh ini kita mau tidak mau harus berpikir objektif dulu dan bukan berarti meninggalkan budaya kritis kita bersama,” terangnya.

Terakhir, Ary Joko berpesan pada perayaan May Day tahun ini, seluruh pengurus dan anggota FSB GARTEKS tetap optimis. Mengikuti dan beradaptasi dengan kemajuan zaman di eran industri 4.0. Serta tetap membangun agenda sosial dialog dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk merumuskan masa depan buruh yang memiliki pekerjaan dan kehidupan layak.

“Saya optimis FSB GARTEKS bisa melewati masa-masa krisis ini dengan bekerja keras dan ide-ide yang membawa perubahan,” tandasnya. (AH)