ID ENG

Serikat Buruh Bisa Tenggelam, Kalau Tak Mampu Membaca Tantangan Jaman

Tanggal Publish: 23/08/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

M. Hanif Dhakiri Menteri Tenaga Kerja (Menaker) menyampaikan pesan kepada serikat pekerja/buruh agar mampu membaca tantangan jaman. Jika hanya menjalankan rutinitas iuran dan aksi demo, tapi tidak membuat terobosan baru, dipastikan akan tenggelam ditelan jaman.

Hal itu disampaikannya ketika menerima audiensi Dewan Eksekutif Nasional  Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DEN KSBSI) diruang kerjanya beberapa waktu lalu, Jakarta Selatan. Hanif menjelaskan, berdasarkan data yang dirangkum kementeriannya, data jumlah serikat buruh semakin tahun terus bertambah.

Namun yang jadi persoalan, jumlah buruh yang mengalami penurunan atau minatnya berkurang. Bahkan, jumlah serikat pekerja/buruh yang ada di perusahaan ikut mengalami penurunan. Sementara jumlah perusahaan meningkat setiap tahunnya.

“Saya berharap serikat buruh harus membangun kembali kekuatannya serta melakukan evaluasi dan konsolidasi. Seperti apapun serikat buruh negara tetap membutuhkannya sebagai penyeimbang kebijakan lewat saran dan kritik,” ucap Hanif.

Dia juga menyampaikan agar serikat buruh tidak lagi terjebak dalam persoalan konflik internal. Tapi lebih mengedepankan bagaimana menciptakan organisasi yang modern dan bisa melahirkan regenerasi kepemimpinan. Sebab, kalau serikat buruh hanya bisa melakukan demo saja, saya nilai minat orang masuk serikat buruh akan menurun.

Oleh seban itulah, Hanif berpendapat serikat buruh harus bisa membaca dan menjawab tantangan jaman di era revolusi industrilasasi 4.0 sekarang ini. Menurut politisi PKB itu, KSBSI dinilainya merupakan serikat buruh yang mampu menjawab tantangan jaman.

“Sejak saya masih aktivis mahasiswa, KSBSI menjadi pelopor gerakan oposisi buruh yang ikut menumbangkan pemerintahan otoriter Orde Baru. Nah, sekarang ini saya nilai, pola gerakannya telah berubah. Tidak lagi sekadar oposisi, namun sudah moderat, tetap kritis dan mampu memberikan solusi,” ujarnya.     

Pesannya, KSBSI terus mempertahankan tradisi gerakannya yang selama ini dikenal tak hanya memiliki anggota yang banyak. Tapi juga berhasil menjalankan tradisi pengkaderan melalui program pelatihan dan pendidikan.

Kepada Elly Rosita Silaban dan Dedi Hardianto (Presiden dan Sekjen KSBSI) terus menjalankan tradisi pengkaderan untuk melahirkan regenerasi pemimpin serikat buruh berpikir yang berpikir modern, kreatif dan kritis.

“Semoga KSBSI bisa menjadi contoh serikat buruh yang bisa menjawab tantangan jaman. Karena di era revolusi industrialisasi 4.0 sangat berdampak terhadap buruh di dunia industri,” tutupnya. (AH)