ID ENG

Semua Wanita Adalah Perempuan Pekerja

Tanggal Publish: 11/10/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Dua puluh lima tahun lalu, saya menjabat Wakil Direktur Jenderal wanita pertama International Labour Organization (ILO). Lalau saya ikut dipercaya memimpin delegasi Konferensi Wanita Dunia Keempat di Kota Beijing China. Dimana agenda tersebut lebih fokus membahas aspirasi masyarakat dunia dalam kesetaraan gender.

Ada pepatah di Afrika, 'Hari seorang wanita tidak pernah selesai'. Jadi, ketika hadir dalam konferensi tersebut, saya saya menilai pepatah ini sangat berlaku untuk perempuan diseluruh dunia. Terlebih lagi, delegasi yang hadir dalam pertemua ada 30.000 orang, mewakili 189 negara. Dalam pertemuan itu juga, sangat banyak yang didiskusikan tentang kesetaraan nilai dan hak-hak kemanusiaan secara universal.

Dari berbagai diskusi akhirnya lahir kesepakatan Deklarasi dan Platform Aksi Beijing. Dimana tujuannya untuk menyerukan persamaan hak, kebebasan kesempatan bekerja dan berekspresi bagi perempuan tanpa ada kekangan. Selama agenda konferensi, banyak dari perwakilan delegasi membawa anak-anak dan bayi mereka diruang pertemuan. Bayi-bayi itu mengenakan kaos dengan pesan 'Saya bekerja penuh waktu'.

Intinya, dari catatan refleksi saya, bahwa semua wanita adalah perempuan pekerja. Dan apa yang mereka kerjakan harus dihargai. Dalam keseharian, wanita tetap melakukan pekerjaan rumah, pekerjaan perawatan, merawat anak-anak tetapi tidak ada yang tercermin dalam statistik. Saat bekerja diluar rumah, masih banyak perempuan dibeberapa negara yang bekerja, upahnya dibayar rendah.

Kenapa saya membuat pernyataan tegas seperti itu? Karena latar belakang saya seorang ekonom. Jadi ketika saya bekerja di ILO dan melakukan penelitian, banyak kami temukan perempuan yang bekerja dibelahan negara, upah mereka diberikan dengan nilai rendah.

Saya bersyukur, karena situasi hak perempuan dalam dunia kerja semakin membaik. Reformasi undang-undang untuk mendorong kesetaraan gender, cuti melahirkan semakin mendapat kesempatan yang sama. Bahkan, setelah konferensi di Beijing, dibeberapa negara membuat kebijakan bagi anak-anak perempuan untuk wajib sekolah. Bahkan ketika saya menjabat kanselir, di Universitas Ghana, juga telah terjadi perubahan, karena ada lebih banyak siswa perempuan dari pada laki-laki yang kuliah.

Saya terharu, hasil pertemuan konferensi di Beijing, perempuan telah banyak memiliki keberanian untuk mengeluarkan pendapat dan memperjuangkan hak kesetaraan gender. Termasuk dibelahan negara, para pemimpinnya sudah banyak membuat undang-undang untuk mempermudah perempuan bekerja.

Walau telah mengalami kemajuan, namun saya masih melihat dukungan dan kampanye hak dan kesetaraan gender belum didukung secara keseluruhan oleh masyarakat. Karena masih banyak pekerja perempuan masih memikul beban yang berat dan upah yang diterima masih minim.

Kekuatiran saya, dimasa pandemi Covid-19, apa yang sudah diperjuangkan dalam kesetaraan gender selama 25 tahun bisa mengalami kemunduran. Sebab, dampak wabah Corona memicu 'sindrom pencari nafkah laki-laki', yang bisa menyebabkan perempuan terpaksa keluar dari tempat kerja.

Mengingat krisis Covid-19 yang berkepanjangan ini, saya pikir kita semua harus bisa membuat perubahan permanen. Agar agenda kesetaraan gender tetap berkelanjutan. Saya memahami, bahwa dilingkungan saya, suara perempuan belum memiliki peran yang kuat dalam mengambil keputusan. Karena para pembuat kebijakan sebagian besar masih laki-laki. Jadi, ada baiknya perempuan harus melakukan dialog pencerahan dalam pemahaman kesetaraan gender. Karena kalau tidak ada lahir kesadaran bersama,  tidak akan pernah ada perubahan permanen. (sumber: ilo.org)