ID ENG

Semoga, Tahun Depan Menjadi Kebangkitan K2F GARTEKS KSBSI

Tanggal Publish: 21/12/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Indah Fatma Sari Ketua  K2F FSB GARTEKS KSBSI mengatakan sebenarnya tahun ini menjadi targetnya mengembangkan perwakilan Komite Kesetaraan Cabang (K2C) dan Komite Kesetaraan tingkat  perusahaan (K2 PK). Dimana tujuannya, untuk melakukan edukasi, kampanye kesetaraan gender serta advokasi kepada semua anggota.

Sayangnya, taka da yang menyangka. Tahun ini rupanya dunia sedang mengalami pandemi Covid-19. Sehingga, target program untuk membentuk kepengurusan tingkat cabang dan komisariat tingkat perusahaan sempat tertunda. Tapi, setelah lebaran kemarin, dia menyampaikan agenda pembentukan itu kembali dilakukan.

“Saya langsung membentuk ketua dan pengurus K2F FSB GARTEKS KSBSI dari tingkat cabang dan komisariat perusahaan. Seperti di Kabupaten Bogor, Subang, Sukabumi . Untuk wilayah Jawa Tengah, Kota Semarang telah dibentuk. Lalu untuk Kabupaten Jepara, Wonogiri mudah-mudahan tahun depan  segera dibentuk,” jelasnya.     

Kata Indah, sebelum Kongres FSB GARTEKS KSBSI pada Maret 2020 di Kota Semarang Jawa Tengah, kepengurusan di Kabupaten Serang, Tangerang Banten telah dibentuk. Termasuk di Kota Medan Sumatera Utara. Berhubung di Karawang Jawa Barat sedang persiapan pembentukan tingkat DPC FSB GARTEKS KSBSI, kemungkinan juga akan dibentuk. Untuk DKI Jakarta berhubung belum ada DPC, maka dibentuk melalui tingkat komisariat perusahaan.

Lanjutnya, selama proses membentuk K2F tingkat cabang dan komisariat, Indah mengatakan banyak mendapat aspirasi. Seperti kedepannya agar dibuat pelatihan advokasi buruh perempuan di dunia kerja. Sebab, ketika mereka sedang dihadapkan persoalan ketika bekerja, pada umumnya masih banyak memilih diam dibandingkan laki-laki.

“Atau tepatnya belum berani bersikap kritis, jadi harus butuh pendampingan,” ujarnya.

Selanjutnya, pelatihan kepemimpinan perempuan juga memang dibutuhkan. Supaya nantinya kader-perempuan FSB GARTEKS KSBSI, dari tingkat cabang sampai pengurus komisariat tampil menjadi pemimpin. Dan siap mengambil peran dan tanggung jawab serta melahirkan jenjang regenarasi.

“Pelatihan Gender Bassed Violence (GBV) yang rutin dilakukan harus ditingkatkan. Untuk membangun kesadaran dan mengkampanyekan menolak kekerasan terhadap gender di dunia kerja,” bebernya.

Dia berharap, poin kampanye GBV, pengurus K2F GARTEKS KSBSI bisa melakukan kampanye di tiap perusahaan tempat bekerja. Agar bebas dari perlakuan diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. Hal ini dibuktikan, saat mengkampanyekan GBV ditempatnya bekerja, pihak perusahaan menyambut baik. Lalu dimasukan dalam kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) pada  2019 lalu.

Sebagai Ketua K2F GARTEKS KSBSI, Indah juga punya target supaya kader perempuan di organisasi ini lahir srikandi baru yang berpikir maju, berani bicara serta mengambil peran. Target pada 2021 nanti, ia berkeinginan meningkatkan kualitas pelatihan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Semoga tahun depan pandemi Covid-19 berakhir. Jadi kita bisa merealisasikan semua bentuk pelatihan yang sudah direncanakan. Saya berharap hasil pelatihan ini nantinya, lahir pemimpin buruh perempuan dari tingkat pengurus komisariat, cabang,” ucapnya.    

Sejauh ini, Indah menilai sudah terlihat kader-kader buruh perempuan FSB GARTEKS KSBSI mulai terlihat akan tampil menjadi pemimpinan berani bicara setiap ada pertemuan dan pelatihan. Harapannya kedepan, Indah menginginkan srikandi-srikandi GARTEKS KSBSI semakin banyak tampil menjadi pemimpin.

“Saya berharap nantinya regenerasi K2F KSBSI yang lebih hebat dari saya. Srikandi-srikandi FSB GARTEKS KSBSI jangan lagi menjadi penggembira di organisasi. Namun harus bisa memberikan kontibusi untuk membesarkan organisasi,” ungkapnya.  

Sebab, kalau buruh perempuan tidak berani bersuara, maka inspirasi yang mereka miliki tidak bisa disalurkan. Waktu ditanya, apakah di FSB GARTEKS KSBSI masih ada perlakuan diskriminasi dan stigma perempuan adalah lemah, dia menjawab tidak ada.

“Sejauh ini sejak aktif di FSB GARTEKS KSBSI sampai sekarang, belum ada saya lihat terjadi diskriminasi dan merendahkan derajat perempuan. Justru pengurus dan anggota semuanya sangat mendukung kami untuk tampil menjadi pemimpin,” lugasnya.

Kata Indah, saat ini di tingkat komisariat perusahaan sudah terlihat perempuan aktif menjadi pengurus, tidak seperti dulu. Bahkan, mereka pun sekarang sangat aktif mengkampanyekan menolak kekerasan berbasis gender di perusahaan. Serta cuti kehamilan selama 14 minggu dan mendesak pemerintah mengenai Ratifikasi ILO 183 Tentang Cuti Haid dan Melahirkan di dunia kerja.

Buktinya ditempatnya bekerja, pihak manajemen perusahaan sudah menerima baik saran tentang usulan cuti kehamilan 14 minggu. Sebab, bagi perempuan setelah melahirkan sebenarnya tidak cukup mendapatkan cuti selama 3 minggu.

Jadi, pihak perusahaan menyampaikan saat buruh perempuan yang habis cuti melahirkan itu saat bekerja, lalu ada fisik kesehatannya ada masalah, mereka disarankan konsultasi di klinik perusahaan. Nah, kalau dokternya menyarankan istrahat untuk tidak bekerja selama beberapa hari, maka pihak perusahaan tidak memotong gaji,” jelasnya.

“Mudah-mudahan pemerintah segera melakukan ratifikasi Konvensi ILO 183, supaya masalah cuti 14 minggu kepada perempuan yang bekerja di perusahaan bisa dimasukan dalam agenda PKB,” tandasnya. (AH)