ID ENG

Selayang Pandang Mengenal Federasi Serikat Buruh GARTEKS KSBSI

Tanggal Publish: 18/06/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri yang berafiliasi dengan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB GARTEKS-KSBSI) adalah organiasi yang tetap konsisten  digaris perjuangan buruh. Dan saat ini dipimpin oleh Ary Joko Sulistyo sebagai Ketua Umum dan Trisnur Priyanto menjabat Sekretaris Jenderal).  

Serikat  ini berdiri pada 1997, dimasa pemerintahan otoriter orde baru (Orba). Saat ini kantor pusatnya berada di Jalan Cipinang Muara Raya No.33, RT.1/RW.2, Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Waktu itu, bagi organisasi yang kritis kepada pemerintah akan dikekang penguasa dan penuh intimidasi dari kekuatan militerisme.

Bagi FSB GARTEKS KSBSI, segala bentuk ancaman itu bukan  tembok halangan untuk mewujudkan kebebasan berserikat. Akhirnya, pada Mei 1998, serikat buruh ini terlibat menumbangkan rejim Orba. Lalu lahirlah era reformasi yang ikut mendukung kebebasan berserikat. 

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum FSB GARTEKS KSBSI mengatakan usia serikat buruh yang dipimpinnya terbilang masih muda dibandingkan serikat buruh lainnya. Namun dalam perjalanannya, sedikit banyak ikut mendorong terciptanya hubungan dunia industrial yang harmonis antara pemerintah dan pengusaha. Serta rutin menjalankan pendidikan, advokasi kepada pengurus dan anggota di sektor industri padat karya.

“Perjalanan FSB GARTEKS KSBSI sudah melewati tantangan 3 tahap (fase). Dari era pemerintahan otoriter, reformasi dan saat ini memasuki revolusi industri 4.0,” ucapnya.

FSB GARTEKS KSBSI telah mempunyai perwakilan 17 Dewan Pengurus Cabang (DPC)  di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Diantaranya sedang fokus mengembangkan basis cabang diwilayah Pulau Jawa. Selain itu sudah membangun mitra internasional. Seperti Industri All, CNV International, WSM, Better Work Indonesia. Bersama lembaga ini, rutin bekerja sama dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) untuk buruh serta program kampanye advokasi.

“Seperti pelatihan Gender Bassed Violence (GBV) sekaligus penerapan zona bebas kekerasan berbasis gender dan seksual dilingkungan perusahaan dalam bentuk Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Lalu ikut memotori konsep kebebasan berserikat atau Protokol FOA (freedom of assosiation) untuk buruh yang bekerja di perusahaan mulitinasional (Nike, Puma, Adidas dan sejenisnya),” ucapnya.                                                             

FSB GARTEKS KSBSI juga berhasil membangun komunikasi dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) dalam agenda sosial dialog. Bersama asosiasi pengusaha ini, organisasinya rutin berdialog untuk mendorong keberlangsungan usaha serta menciptakan kesejahteraan buruh.

“Memang sudah banyak yang dilakukan sejak dilahirkan pada 1997 silam. Namun dalam pencapaian ini, FSB GARTEKS KSBSI tidak boleh puas, tapi masih belajar. Dan terus membangun jaringannya untuk memperkuat posisi tawar,” kata Ary Joko.

Tetap Beradaptasi

Di era industri 4.0 ini, Ary Joko menjelaskan buruh di industri sektor Tekstil, Garmen, Alas Kaki dan Kulit (TGSL) tetap memiliki tantangan. Walau saat ini memang belum begitu berdampak. Namun ia menyampaikan FSB GARTEKS KSBSI tetap mengantisipasi tantangan ini. Salah satunya, mendorong semua pengurus dan anggota beradaptasi dengan perkembangan digitalisasi, robotisasi dan otomatisasi.

“Kalau serikat buruh tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi pasti tergilas. Jadi FSB GARTEKS KSBSI harus mampu beradaptasi, jangan terjebak dalam pola pikir yang konvensional,” tegasnya.

Urusan peningkatan SDM, ia menerangkan organisasinya tetap menjalankan pelatihan kepada setiap pengurus, dari tingkat pusat, cabang sampai pengurus komisariat tingkat perusahaan. Dimana pendidikan tersebut untuk mempersiapkan kader terbaiknya duduk di struktur organisasi. Termasuk telah membenahi administrasi organisasi dengan memperbaiki data base anggota melalui sistem online.

“Kami juga rutin menyampaikan berbagai kegiatan dan agenda, visi dan misi organisasi melalui website organisasi di media sosial (Medsos),” pungkasnya.

Dia menyadari, tantangan serikat pekerja/buruh setiap tahunnya semakin berat dalam menyikapi kebijakan politik terkait perburuhan. Dan tak mungkin bisa tak bisa dihadapi sendiri. Karena itu, sangat diperlukan konsolidasi lintas serikat pekerja/buruh di sektor TGSL. Dengan membangun Aliansi Pekerja Buruh Garmen, Alas Kak dan Tekstil (APBGATI).

“Saya berharap APBGATI menjadi rumah besar bagi serikat pekerja/buruh di sektor industri TGSL untuk menyikapi dan mencari solusinya. Kalau kita hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa ada persatuan, pasti gampang dipatahkan. Sudah saatnya kita bersatu, masing-masing harus meninggalkan sikap ego,’ tandasnya. (AH)