ID ENG

Presiden KSBSI: Regenerasi Kepemimpinan Buruh Perempuan Harus Berjalan Walau Banyak Tantangan

Tanggal Publish: 24/08/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Elly Rosita Silaban Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) mengatakan keterlibatan perempuan dalam konteks kepemimpinan serikat buruh terbilang masih minim. Dia menjelaskan di sektor industri garmen itu pekerjanya mayoritas buruh perempuan. Tapi ketika mereka bergabung di serikat buruh sektor garmen, justru pengurusnya 90 persen adalah laki-laki.

“Sebenarnya KSBSI sudah lama mengkampanyekan dan mendorong keterlibatan buruh perempuan memimpin organisasi. Bahkan di AD/ART serikat buruh kami sudah memberikan kuoata 40 persen pengurus dari unsur perempuan,” terangnya, dalam agenda webinar ‘Perempuan Pekerja Ditengah Krisis dan Perubahan Teknologi’, yang diadakan ILO Perwakilan Jakarta, Selasa (24/8/21).

Kalau melihat sekarang ini, justru di tingkat pergerakan internasional sedang didorong kepemimpinan perempuan. Baik dalam politik, pergerakan politik dan sosial lainnya. Elly menjelaskan, salah satu kendala perempuan sulit tampil pemimpin serikat buruh, karena perempuan itu sendiri belum membuang pikiran rasa tidak percaya dirinya. 

“Kemudian masih banyak buruh perempuan ketika mereka bergabung di serikat buruh hanya menitipkan persoalan mereka kepada laki-laki di perusahaan supaya diperjuangkan. Seperti masalah hak cuti kehamilan dan haid,” ungkapnya.

Menurutnya, cara berpikir seperti itu salah. Sebab, dalam dunia kerja buruh perempuan jangan terlalu menggantungkan hak-hak normatifnya supaya diperjuangkan laki-laki. Namun harus sama-sama terlibat dan berpartisipasi untuk mengkampanyekan dan memperjuangkannya.  

Karena buruh perempuan masih kurang percaya diri menjadi pemimpin, dia menyampaikan akan berpengaruh pada isu-isu yang diperjuangkan ditingkat nasional. Contohnya, ketika buruh melakukan demo, peserta aksinya lebih banyak perempuan muda.

“Tapi isu yang disampaikan waktu demo, justru sangat jarang membela hak perempuan,” terangnya.

Elly juga menjelaskan bahwa laki-laki dilingkungan serikat buruh itu pola pikirnya sudah berubah. Mereka tidak lagi menganggap bahwa perempuan itu lemah, sehingga tidak pantas memimpin organisasi. Namun berhubung, buruh perempuan masih banyak tidak percaya diri, maka dukungannya pun tidak kongkrit.

“Jadi wajar saja, kalau banyak laki-laki di serikat buruh masih minim mendukung kepemimpinan perempuan, karena mereka sendiri pun selama ini belum banyak memberikan kontribusi organisasi. Serta terlibat melakukan advokasi dan kampanye hak-hak buruh,” ucapnya.

Walau penuh tantangan, Elly menyampaikan KSBSI tetap melakukan pendidikan dan pengkaderan bagi buruh perempuan yang memiliki potensi pemimpin. Karena dia tidak mau regenerasi kepemimpinan perempuan tingkat nasional serikat buruhnya hanya berhenti pada dirinya saja.

“Jadi tongkat estafet kepemimpinan harus ada yang diciptakan, walau proses pengkaderannya butuh proses dan tantangan,” tutupnya. (AH)