ID ENG

Perwakilan FSB GARTEKS Hadir di FGD Industri 4.0 Regional Asia

Tanggal Publish: 21/10/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Beberapa waktu lalu, Faisal, Sekretaris DPC FSB GARTEKS KSBSI Kabupaten Bogor, Jawa Barat diutus menghadiri agenda Focus Group Discussion (FGD) tentang dampak Industri 4.0, regional Asia. Acara yang berlangsung selama tiga hari di Negara Bangkok, Thailand yang difasilitasi IndustriAll. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan lintas serikat buruh seperti dari Philipina, Thailand, Malaysia, Bangkok, Kamboja itu memang membahas dampak peralihan tenaga manusia yang digantikan oleh teknologi di era industri 4.0.

Faisal dalam pemaparannya di forum FGD, mengatakan industri 4.0 sangat berdampak terhadap buruh di Indonesia. Karena kehadiran teknologi digitalisasi, robotisasi dan otomatisasi seperti di perusahaan sektor garmen dan tekstil (Garteks) telah mampu menggantikan tenaga manusia.

Dia tak membantah jika teknologi canggih tersebut merupakan juga ancaman bagi serikat buruh/pekerja. Sebab, jika semakin banyak teknologi canggih menggantikan tenaga manusia, maka kekuatan serikat buruh pun semakin berkurang.

Namun ditengah kehadiran teknologi serba canggih , Faisal menyampaikan buruh tidak boleh anti atau melakukan sikap penolakan. Sebab, kemajuan teknologi juga memiliki dampak yang positif bagi manusia. Dalam forum itu, dia menegaskan dampak pengurangan tenaga kerja di Indonenesia akibat kehadiran teknologi canggih sebenarnya bukan kesalahan perusahaan.

Tapi persoalan yang terjadi karena masih lemahnya tingkat daya saing buruh, terutama kemampuan ketrampilan dan keahlian yang lebih dalam dunia kerja. Menurutnya, prospek dunia kerja di sektor garmen dan tekstil di Indonesia masih menjanjikan. Karena minat investor asing dan lokal masih banyak yang eksis menjalankan usahanya.

“Walau disatu sisi perusahaan di sektor garmen dan tekstil ini ada yang bangkrut. Diantaranya karena ada dampak krisis global,” ujarnya.

Oleh sebab itulah, mengingat daya saing kerja buruh di Indonesia masih lemah, FSB GARTEKS KSBSI juga ikut mendorong pemerintah Indonesia melakukan program vokasi (pelatihan) berbasiskan program digitalisasi, otomatisasi dan robotisasi dengan melibatkan semua unsur. Baik dari unsur pendidikan (kampus/sekolah) dan pengusaha.

Dia menilai calon angkatan tidak dibekali ketrampilan dan keahlian melalui program vokasi, maka kondisi pekerja di Indonesia kedepannya terus berkurang dan digantikan oleh teknologi. “Kalau teknologi sudah menyingkirkan tenaga manusia, tentu akan menjadi persoalan baru. Karena pengangguran akan meningkat,” jelasnya.

FSB GARTEKS KSBSI juga rutin menyampaikan kepada pengurus dan anggotanya bahwa kehadiran teknologi canggih di era industri 4.0 bukan momok yang menakutkan. Namun setiap buruh harus bisa beradaptasi dan mampu menciptakan peluang. (AH)