ID ENG

Perkuat SDM, DPC FSB GARTEKS KSBSI Kabupaten Bogor Gelar Pelatihan Kepimpinan Serikat Buruh

Tanggal Publish: 13/06/2022, Oleh: DPP FSB Garteks

Semua organisasi pasti butuh pemimpin, termasuk di serikat buruh. Tugas pemimpin juga harus mampu menjalankan roda organisasi, melakukan pembinaan kepada anggotanya. Karena itu, pada Minggu (12/6/2022), Dewan Pengurus Cabang Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri-Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DPC FSB GARTEKS KSBSI) Kabupaten Bogor Jawa Barat mengadakan pelatihan ‘Memahami Nilai-Nilai Kepemimpinan Serikat Buruh’.

Wadiyo Ketua DPC FSB GARTEKS KSBSI Kabupaten Bogor mengatakan kegiatan ini merupakan tanggung jawab organisasi untuk melahirkan regenerasi kepemimpinan. Sehingga nantinya, serikat buruh yang dipimpinnya menjadi dinamis. Dia berharap, bagi peserta yang sudah dilatih kedepannya harus mengambil peran organsasi. Terutama orang-orang muda yang memiliki semangat dan suka tantangan.

“Pelatihan ini memang khusus dibuat perwakilan dari semua pengurus tingkat cabang serta Pengurus Komisariat (PK). Diadakan setiap bulan, sehingga nantinya Sumber Daya Meningkat (SDM) dan mereka memiliki pengetahuan luas tentang kepemimpinan serikat buruh,” ucapnya, di Kecamatan Citereup, Kantor DPC FSB GARTEKS KSBSI Kabupaten Bogor.

Andreas Hutagalung Departemen Komunikasi DPP FSB GARTEKS KSBSI yang dipercaya memberikan materi pelatihan mengatakan bahwa menjadi pemimpin serikat buruh adalah panggilan dari hati nuraninya. Sebab, karakter pemimpin serikat buruh sangat berbeda dengan organisasi lain. Dan harus konsisten kesejahteraan buruh dan selalu dibayangi berbagai ancaman.

Kemudian hal yang utama dari pemimpin serikat buruh adalah dia harus siap melayani anggota. Berani mengambil risiko, bertanggung jawab, mengutamakan kejujuran, pantang mundur membela anggota saat di intimidasi pihak lain, mau mendengar saran serta kritik.

“Pemimpin serikat buruh juga harus memiliki komitmen membesarkan organisasinya. Konsisten dalam pengkaderan kepada anggota, agar buruh menjadi cerdas dan kritis,” ungkapnya.

Selain itu, mereka yang terpanggil menjadi pemimpin serikat buruh adalah memiliki jiwa sosial tinggi. Lalu mempunyai jiwa militan. Karena kader buruh yang militan tak mengenal kata mundur saat organisasinya menghadapi tantangan berat. Dan mereka yang terpanggil menjadi pemimpin serikat buruh wajib memiliki komitmen belajar dunia organisasi buruh. Termasuk memahami peraturan ketenagakerjaan yang dibuat pemerintah di lingkungan kerja.

“Seorang aktivis buruh juga harus memiliki solidaritas yang tinggi. Dalam memperjuangkan hak upah buruh tidak boleh diskriminasi memandang suku, ras dan agama. Tapi yang diutamakan adalah semangat kemanusiaan untuk menegakan keadilan,” ungkapnya.

Andreas Hutagalung juga menyampaikan pemimpin serikat buruh harus kreatif dan memiliki ide untuk membesarkan organisasi. Memiliki komitmen membangun jaringan ke serikat buruh/serikat pekerja lainnya. Dalam menyampaikan gagasan tetap percaya diri serta mampu mempengaruhi anggota. Supaya ide yang sudah disampaikan bisa direalisasikan menjadi kegiatan.

Aktivis buruh dikenal mampu mengorganisir dan menggerakan ribuan orang aksi demo maupun kegiatan lainnya. Tapi perlu diingat, jika ingin menjadi pemimpin serikat buruh berkwalitas, maka harus bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. “Pimpinlah diri kita sendiri dulu sebelum memimpin orang. Pemimpin buruh yang cerdas itu harus kritis dan memiliki pikiran jernih,” tandasnya. (AH)