ID ENG

Perayaan May Day 2021, Tri Pamungkas: Perjuangan Buruh Masih Panjang

Tanggal Publish: 01/05/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Setiap tanggal 1 Mei dikenal hari Buruh Internasional atau ‘May Day’. Seluruh aktivis serikat buruh/pekerja di seluruh dunia hari ini merayakannya, walau situasi pandemi Covid-19 masih terjadi. Termasuk keluarga besar DPC Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri yang berafiliasi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB GARTEKS KSBSI) Tangerang Raya ikut merayakan May Day 2021.

Tri Pamungkas Ketua Cabang DPC FSB GARTEKS KSBSI Tangerang Raya mengatakan memperjuangkan hak buruh dan membangun organisasi dari tingkat perusahaan dan kabupaten/kota tidaklah mudah. Termasuk membangun sikap kritis dan militansi pergerakan buruh ditingkat nasional.

Ia tak membantah, FSB GARTEKS KSBSI Tangerang Raya sendiri salah satu serikat buruh yang masih memiliki banyak kendala dalam menjalankan roda organisasi. “Tapi kami tetap konsisten memperjuangkan hak buruh. Walau tantangan dan hambatan dihadapi sangat banyak,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/5/21).  

Dia menerangkan, organisasinya masih tetap berjuang dan menyikapi kritis beberapa permasalahan buruh dari tingkat lokal diantaranya:

  1. Mangkraknya proses pemeriksaan pada tahap penyidikan perkara di PT. Hari Mau Indah tingkat Polres Kota Tangerang yang sedang di advokasi DPC FSB GARTEKS KSBSI Tangerang Raya.
  2. Mudahnya masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ditingkat perusahaan.
  3. Kurang tegasnya pegawai pengawas ketenagakerjaan dalam penegakan hukum ketenagakerjaan.
  4. Masih lambannya penanganan perselisihan ditingkat kabupaten/kota.
  5. Maraknya penerapan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan pemborongan pekerjaan pada bagian pokok inti.
  6. Praktik Pemagangan dengan upah jauh dibawah upah minimum.
  7. Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) keagamaan di cicil tanpa kesepakatan.

Terkait kebijakan nasional soal ketenagakerjaan, Tri Pamungkas menegaskan FSB GARTEKS KSBSI tetap menolak Undang-Undang Cipta Kerja. Undang-undang tersebut dinilainya memang tak memihak dan mendegradasi hak-hak buruh di dunia kerja. Saat ini ia juga terlibat salah satu sebagai tim kuasa hukum KSBSI dalam uji materi (Judicial Review) UU Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Intinya kami tidak menolak keseluruhan omnibus law UU Cipta Kerja. Tapi memang ada beberapa pasal yang sangat krusial dan berpotensi menghancurkan masa depan buruh. Jadi patut digugurkan,” jelasnya.

Dia juga mendesak pemerintah lebih terbuka dan melibatkan perwakilan serikat buruh/pekerja dalam mengatasi ledakan pengangguran. Sebab, dampak Covid-19, telah mengakibatkan jutaan buruh menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Saya pikir, kalau pemerintah lebih intens mengajak aktivis buruh/pekerja untuk berdialog, pasti persoalan ledakan pengangguran sekarang ini ada solusinya. Jangan hanya kelompok pengusaha saja yang sering diajak berdialog,” lugasnya.

Selain itu, Tri Pamungkas mengingatkan kasus kekerasan berbasis gender di dunia kerja sampai hari ini masih tinggi. Dia sangat mendukung pemerintah segera melakukan ratifikasi konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) No. 190 tahun 2019 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja.

“Ata alternatif lainnya segera mensahkan Rancangan Uncang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PSK) yang juga bisa melindungi buruh/pekerja di dunia kerja,” ujarnya.

Sikap kritis diatas adalah sebagian dari catatan kritis May Day 2021, dalam persoalan buruh di tingkat daerah dan nasional. Dia berharap catatan ini bisa menjadi otokritik terhadap pemerintah daerah dan pusat demi kesejahteraan kaum buruh.

Perayaan May Day 2021, tepatnya pada Sabtu 19 Ramadhan 1442 H, FSB GARTEKS KSBSI Tangerang Raya memutuskan tidak melakukan aksi demo.  Namun melakukan aksi sosial bersama seluruh pengurus dan anggota sebagai wujud kepedulian sesama.

“May Day tahun ini kami juga memanfaatkan agenda konsolifasi silaturahmi dengan anggota lintas pengurus komisariat dan lintas federasi. Melakukan seminar tentang lobby dan advokasi, santunan, buka puasa bersama dan Sholat Magrib berjamaah,” terangnya.

Terakhir, dia berpesan kepada semua pengurus dan anggota harus siap menghadapai situasi apapun. Tekanan, ancaman bahkan dengan kebijakan yang tidak memihak terhadap buruh juga akan menjadikan tantangan.

“Kita harus optimis bahwa kita mampu dan bisa melewati tantangan ini, hidup buruh!,” tandasnya. (AH)