ID ENG

Pengurus dan Anggota FSB GARTEKS KSBSI Digojlok Pelatihan Jurnalis

Tanggal Publish: 01/05/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Pengurus tingkat cabang dan anggota  Federasi Serikat Buruh Garmen dan Tekstil (FSB Garteks) Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBI) kembali mendapat pelatihan. Kali ini, pengurus dan anggota digojlok pelatihan jurnalis dengan tema ‘To Strengthen Garteks Capacity In Several Media’ di Hotel Griya Astuti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, 29-30 April 2019.

Dalam kata sambutan pembukaan  agenda pelatihan, Ary Joko Sulistyo, Ketua Umum DPP FSB GARTEKS KSBSI, mengatakan di era perkembangan teknologi digitalisasi saat ini, segala bentuk informasi sangat begitu pesat diterima masyarakat. Dengan pesatnya kemajuan informasi seperti media online dan media sosial (Medsos), Facebook, Twitter, Instagram, akhirnya juga sangat bermanfaat kepada serikat buruh dalam memberitahukan segala kegiatan organisasi.

Lanjutnya, Joko menyampaikan bahwa kekuatan serikat buruh selain basis massa yang kuat dan iuran yang juga rutin, aktivis serikat buruh juga harus bisa menggiring opini perjuangan buruh. Diadakannya pelatihan jurnalis, Ary mengatakan nantinya memang menjadi kebutuhan untuk memperjuangkan setiap agenda FSB GARTEKS KSBSI, tiap cabang dan pengurus komisariat (PK).

“Saya berharap pelatihan yang diselenggarakan nantinya bisa melahirkan jurnalis yang bisa memberikan kontribusi berita dari segala kegiatan FSB GARTEKS KSBSI tiap cabang kepada buruh dan masyarakat,” ujarnya kepada peserta.

Dia juga menyampaikan, saat ini DPP FSB GARTEKS KSBSI sudah memiliki website sendiri (https://www.fsbgarteks.org). Oleh sebab itulah, ketika website organisasi sudah dimiliki, dia berharap setiap kader dari perwakilan cabang bisa menjadi kontributor untuk memberitahukan segala bentuk kegiatan organisasi dalam pemberitaan.   

“Bagi pengurus dan anggota yang mengikuti pelatihan jurnalis anda semua adalah orang yang beruntung, karena tidak semua yang bisa mengikuti pelatihan ini, hanya perwakilan saja. Saya berharap setelah pelatihan ini saudara-saudara lebih rajin menulis untuk menjadi kontributor media kita,” ucapnya.

Menurut Joko, Garteks serius ingin meningkatkan kualitas anggota melalui pelatihan-pelatihan berbagai bidang ilmu. ”Pengurus dan anggota FSB GARTEKS KSBSI harus berbeda dengan serikat pekerja lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Appe Hutahuruk, pengamat hukum dan dosen di Universitas Mpu Tantular, Jakarta, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa perkembangan dunia teknokogi sangat berpengaruh terhadap perkembangan media. Di era digital sekarang ini, media online dan medsos sudah menjadi kebutuhan infomasi publik.

Namun ditengah arus kebebasan pers dan informasi memiliki dampak negatifnya. Seperti berita dan informasi ujaran kebencian, hasutan provokasi rasis, suku dan agama dan berita hoax (bohong). Jadi, ketika membaca informasi, Appe menyarankan agar menyeleksi berita segala berita dan informasi di media online dan media sosial.

Kalau ingin mencari informasi berita, saya sarankan mencarinya di media online yang sudah diakui publik secara luas jangan media online yang belum dipercaya kualitas beritanya, karena banyak menyebarkan berita hoax.

“Nah, dalam urusan informasi di medsos saya sarankan anda juga harus hati-hati. Karena banyak orang yang sengaja menyebarkan berita hoax dan hasutan. Kalau anda ikut menyebarkan informasi tersebut, saudara bisa masuk penjara, dikenakan pasal pidana undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008,”ujarnya.

Terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menjelaskan dalam frasa ”menyebarkan berita bohong” yang diatur adalah perbuatannya, sedangkan dalam kata ”menyesatkan” adalah akibat dari perbuatan tersebut yang membuat orang berpandangan salah atau keliru.

Untuk itulah, tugas seorang jurnalis juga harus bertanggung jawab menyampaikan berita yang sifatnya edukasi kepada masyarakat. Seorang jurnalis pun dalam UU ITE bisa dijerat, kalau dirinya mengabarkan berita hasutan, provokasi dan hoax. “Saya sarankan, nantinya calon-calon jurnalis yang mengikuti pelatihan ini harus mengikuti peraturan dan kode etik jurnalis dan patuh terhadap UU ITE,” jelasnya.  

Pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan FSB Garteks diikuti 20 peserta dari perwakilan cabang Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Selain AP Hutauruk, pembicara lainnya adalah dua wartawan, Andreas Hutagalung dan Usman Gumanti. (AH)