ID ENG

Pemimpin Serikat Buruh Harus Menguasai Ilmu Komunikasi

Tanggal Publish: 28/06/2022, Oleh: DPP FSB Garteks

Perwakilan Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan Pengurus Komisariat (PK) Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri-Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia  FSB GARTEKS di Provinsi Jawa Tengah kembali dibekali pendidikan. Pelatihan ini diantaranya materi Training Tehnical Organizing, Training Negoisator CBA, Teknik Komunikasi dan pemahaman undang-undang ketenagakerjaan.

Trisnur Priyanto Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP FSB GARTEKS saat memberikan materi pelatihan teknik komunikasi mengatakan tugas aktivis buruh tidak hanya melakukan advokasi. Tapi juga harus mampu meningkatkan kemampuan komunikasi saat melakukan perekrutan anggota. Karena ilmu komunikasi adalah alat mempengaruhi, edukasi dan memperluas relasi.

“Jika kalian terpanggil menjadi pemimpin serikat buruh, maka harus wajib belajar teknik komunikasi,” ucapnya di Hotel Citra Dream, Kota Semarang Jawa Tengah, Senin (27/6/2022).

Sebab, cepat atau lambat, pemimpin serikat buruh itu pada waktunya nanti akan berinteraksi dengan banyak orang. Mereka nantinya juga bakal bertemu perwakilan pemerintah, pengusaha serta kalangan lainnya. Jadi tidak dengan pengurus dan anggotanya saja.  

“Kalau sekarang ini kalian tidak mau meningkatkan ilmu komunikasi, pasti akan mendapat kesulitan untuk kedepannya,” kata Trisnur.

Selain itu, ia menjelaskan seorang aktivis buruh yang ditugaskan mengorgansir maka gunakanlah kemampuan komunikasi dengan baik. Agar buruh bisa memahami dan mengerti dari visi dan misi yang disampaikan. Saat mensosialisasikan serikat buruh, gunakanlah bahasa komunikasi yang mudah dimengerti serta menguasai topik yang akan disampaikan.  

“Kalau buruh sudah bisa mencerna bahasa komunikasi kita, pasti pada waktunya mereka akan yakin untuk bergabung ke serikat buruh,” terangnya.

Dia juga menyarankan setiap pemimpin serikat buruh sebaiknya gemar membaca.  Supaya pengetahuan bertambah luas dan perbendaharaan kata-kata semakin banyak. Sehingga topik pembicaraan tentang serikat buruh saat mengorganisir buruh semakin banyak.

“Saat berdialog dengan buruh hindari diri kita untuk menggurui, menyudutkan argumentasi mereka. Tapi lebih banyak mendengar dan gunakan pikiran yang jernih untuk memberikan solusi. Karena seorang pemimpin serikat buruh itu bukan menciptakan masalah,” terangnya.

Trisnur menegaskan, pemimpin yang hebat berkomunikasi itu lahir dari keinginan kuat karena belajar dan latihan untuk mempraktikannya. Mereka juga membangun rasa percaya diri, rendah hati, bersikap ramah dan mampu menghidupkan suasana saat berdialog.

“Pemimpin serikat buruh juga tidak boleh anti demokrasi. Harus berbesar hati jika menerima saran dan kritik dari orang-orang sekitarnya, selama tujuannya memang baik,” tutupnya. (AH)