ID EN

Pasca Bencana Alam Palu Sekitarnya, KSBSI Targetkan Tiga Program Kemanusiaan

Tanggal Publish: 23/11/2018, Oleh: DPP FSB Garteks

Pasca bencana alam, gempa bumi sebesar 7,4 skala richter dan ombak Tsunami yang terjadi di kota Palu, Kabupaten Donggala dan Taweli, di Sulawesi Tengah (Sulteng) , bulan Oktober 2018 kemarin tak hanya meninggalkan dampak trauma. Selain ribuan korban nyawa menghilang, infrastruktur jalan, bangunan gedung perusahaan dan rumah penduduk juga banyak yang hancur.


Oleh sebab itulah, Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBSI) ikut memiliki tanggung jawab sosial membantu masyarakat yang tertimpa musibah bencana alam. Terlebih lagi, selama ini KSBSI juga memiliki ribuan anggotanya dari federasi diwilayah itu yang berafilisasi dengan KSBSI. Setelah mendapat kabar bencana alam, Dewan Eksekutif Nasional (DEN) KSBSI langsung mengintruksikan segera membuka Posko Nasional Bencana Alam untuk di Sulteng.


DEN KSBSI juga langsung sigap dengan menunjuk Dwi Harto, Koordinator Wilayah (Korwil) KSBSI DKI Jakarta, sebagai Koordinator Nasional Peduli Bencana Nasional Sulawesi Tengah. Selain itu, DEN KSBSI juga mengintruksikan kepada seluruh pengurus federasi dan anggota dari tingkat pusat dan daerah yang berafiliasi dengan KSBSI untuk berpartisipasi memberikan bantuan. Seperti bantuan materi, pakaian dan makanan cepat saji untuk secepatnya dikirim ke lokasi bencana.


Tak lama kemudian, Mudhofir Khamid, Presiden KSBSI, didampingi Ketua Umum Federasi Pertambangan dan Energi (FPE), Riswan Lubis dan Ketua Umum Federasi Kehutanan, Perkebunan dan Pertanian (F HUKATAN), Metias Mehan, langsung mengunjungi lokasi bencana ke Palu, Selasa, (23/10/2018). Setibanya di kota Palu, Presiden KSBSI beserta dan rombongan diterima langsung Korwil KSBSI Sulteng, Karlan Ladandu dan sejumlah Ketua DPC masing-masing federasi, sekaligus menjumpai keluarga korban sambil melakukan dialog.

“Kehadiran kami di sini Kota Palu dengan membawa sembako dan menyerahkan santuan kematian dan korban luka sebagai wujud solidaritas keluarga besar KSBSI. Tentu bantuan yang kami berikan belum bisa menyelesaikan masalah saudara kami yang terkena bencana alam. Namun, kami berharap semoga dengan sedikit bantuan ini, beban saudaraku di Palu bisa lebih ringan,” katanya.

Menurutnya, bantuan itu merupakan bentuk kepedulian seluruh anggota KSBSI di seluruh Indonesia melalui penggalangan dana solidaritas. Selain itu, KSBSI juga mendapatkan tambahan bantuan dari sejumlah serikat buruh internasional, seperti serikat buruh dari Negara Belgia, Belanda dan beberapa serikat buruh dikumpulkan di International Trade Unions Confederation (ITUC) di Singapura.


“Jadi, dana ini merupakan hasil penggalangan dana yang sifatnya dana solidaritas. Baik dari pengurus dan anggota KSBSI di seluruh Indonesia dan serikat buruh internasional yang membantu menggalang dana ini. Dana ini kita prioritaskan untuk kebutuhan mendesak,” katanya.


Langkah Advokasi
Sekitar awal bulan November, kedua kalinya KSBSI kembali ke Palu dan wilayah kabupaten sekitarnya. Eduard Marpaung, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KSBSI, bersama Stijn Sintubin, aktivis serikat buruh ACV, dari negara Belgia, ikut hadir dan membantu korban bencana alam. Nantinya, Stijn juga akan berkomitmen menggalang solidaritas serikat buruh di Belgia untuk ikut peduli terhadap korban bencana alam.


Dwi Harto, pasca bencana alam dan Tsunami, memang mempunyai program kemanusiaan selama tiga bulan sampai bulan Desember. Dikatakannya, pada bulan Oktober kemarin, program KSBSI orientasi utamanya membantu korban yang tertimpa bencana alam. Untuk bulan November ini, Dwi menjelaskan visi dan misi KSBSI hadir dilokasi untuk memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak keluarga besar KSBSI dan lannya yang terkena bencana.


Nah, untuk bulan Desember nanti, KSBSI akan ikut membantu anggota KSBSI yang ada di Palu dan sekitarnya dalam advokasi lapangan kerja. Pasalnya, pasca bencana alam, banyak anggota penggurus dan anggota KSBSI yang pada umumnya belum bekerja. Karena perusahaan tempat kerja mereka selama ini masih banyak yang tutup. Akibat hancur dihantam bencana alam, sehingga belum beraktifitas.


“Selain belum memiliki pekerjaan tetap, pengurus dan anggota KSBSI juga belum memiliki rumah karena banyak yang rusak berat bahkan ada yang hilang ditelan ombak Tsunami. Mereka sekarang ini masih banyak tidur di tenda penginapan yang disediakan pemerintah selama tiga bulan,” terangnya.


Oleh sebab itulah, KSBSI dalam waktu dekat ini melakukan advokasi untuk mendorong pemerintah segera membantu menciptakan lapangan kerja. Termasuk juga mendorong agar mempercepat pembangunan perumahan yang layak huni. Berdasarkan laporan dari Korwil KSBSI di Sulteng, ada 14 orang anggota KSBSI yang meninggal dari federasi FPE, F HUKATAN dan FSB KAMIPARHO, 7 orang luka-luka berat dan tulang patah. Sementara rumah yang hilang dibeberapa wilayah ada 37 dan 127 rumah rusak berat.


Selain itu, KSBSI juga menegaskan pemerintah juga harus memberikan bantuan program BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan kepada buruh yang selama ini terdaftar sebagai peserta dalam perusahaan. Baik bagi buruh yang meninggal harus diberikan santunan kepada keluarga korban dan yang mengalami luka berat termasuk ada yang mengalami cacat tubuh karena dampak bencana alam. (AH)