ID ENG

Pandemi Covid-19: Pengangguran Diprediksi Naik Lagi

Tanggal Publish: 04/05/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Sri Mulyani Menteri Keuangan menyampaikan imbas Covid-19 salah satunya berdampak di sektor ketenagakerjaan. Sehingga banyak buruh/pekerja dari sektor formal dan informal kehilangan pekerjaan. Melunjaknya pengangguran tak hanya terjadi di Indonesia. Namun hampir diseluruh dunia.

Dia menceritakan, Amerika Serikat salah satu negara perekonomian yang terkuat di dunia pun saat ini ikut mengalami keterpurukan ekonomi. Berdasarkan data terakhir, dia menyampaikan negeri ‘Paman Sam’ ini tingkat penganggurannya menjadi 10 persen.

“Beberapa pengamat ekonomi juga memprediksi jumlah pengangguran di Amerika Serikat bakal naik lagi,” terangnya beberapa waktu lalu dalam konferensi pers daring di Jakarta.   

Dia menjelaskan pemimpin-pemimpin negara sekarang ini sedang mengkhwatirkan tentang naiknya  jumlah pengangguran. Bahkan Gita Gopinath Kepala Ekonom IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan melambat akibat pandemi yang terjadi.

Atau tepatnya, akhir 2020 nanti tingkat pertumbuhannya hanya diperkirakan mencapai 3 persen. Oleh sebab itulah, langkah yang diambil mengatasi Covid-19 sesegera mungkin melakukan penghematan keuangan negara. Salah satu caranya dengan pemangkasan anggaran tiap birokrasi pemerintahan.

Sebelumnya Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) membeberkan imbas dari pandemi Covid-19  sampai pada 16 April 2020, ada 83.546 perusahaan sektor formal melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan buruh/pekerjanya.

Untuk perusahaan sektor informal mencapai 30.794 perusahaan. Sehingga total mencapai 114.340 perusahaan. Dari sektor formal buruh yang terkena PHK dan dirumahkan mencapai 1.500.156 orang. Rinciannya yang terkena PHK sebanyak 229.789 orang dan yang dirumahkan sebanyak 1.270.367 orang.

Sementara dari non formal mencapai 443.760 orang, sehingga pekerja yang terdampak dirumahkan dan PHK menurut catatan Kemenaker saja sudah 1.943.916 pekerja. Mirisnya lagi, buruh yang mengalami PHK dan dirumahkan juga tidak mendapat jaminan yang pasti dari perusahaan.

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian ikut menambahkan bahwa jumlah pengangguran kemungkinan besar akan naik sampai akhir tahun, jika pandemi Covid-19 belum berakhir. Potensi pengangguran bisa naik menjadi 2,92 juta orang.

“Awalnya pemerintah menargetkan tahun ini tingkat pengangguran terbuka (TPT) akan turun ke 5,8 persen. Tapi sekarang naik menjadi 7,33 persen,” ucapnya di Jakarta beberapa waktu lalu.    

Cara mengatasi pengangguran terbuka ini, Airlangga menjelaskan pemerintah sudah membuat strategi dengan mengeluarkan program kartu prakerja. Dia berharap program tersebut menjawab persoalan buruh yang terdampak PHK dan dirumahkan oleh perusahaan, diwaktu melambatnya perekonomian.

Sebelumnya Ary Joko Sulistyo Ketua Umum DPP Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil dan Sentra Industri (FSB GARTEKS) menyarankan agar sebagian dana penanganan Covid-19 yang mencapai Rp 400 triliun lebih, sebaiknya disubsidi kepada pengusaha dalam bentuk pinjaman lunak.

Dia menilai dunia usaha saat ini sedang kesulitan mendapatkan bantuan subsidi usaha. “Kalau perusahaan masih berproduksi, kan masih bisa menyelamatkan buruh bekerja dan tidak terancam PHK dan dirumahkan,” jelasnya.

Intinya, ketika korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan kian bertambah, Ary menegaskan pemerintah dan pengusaha tak boleh lepas tangan. Tapi harus duduk bersama untuk berdialog mencari solusinya.

Selain itu, dia juga mengkritik program Kartu Prakerja yang sedang menjadi masalah sekarang ini. Karena salah satu alasannya buruh kesulitan mengakses program ini melalui teknologi digital. Serta dianggapnya tak sesuai kebutuhan.

“Buruh yang terkena PHK hari ini tidak butuh pelatihan. Tapi bantuan subsidi untuk kebutuhan sehari-hari dan pekerjaan alternatif,” ungkapnya.

Oleh sebab itu pemerintah dimintanya jangan bersikap elitis, sebaiknya ikut melibatkan serikat buruh menangani Covid-19. Dia yakin, kalau pemerintah, pengusaha dan serikat buruh/pekerja bersinergi, mampu mengatasi ledakan pengangguran ditengah pandemi ini. (AH/berbagai sumber)