ID ENG

MPO KSBSI: Paradigma Serikat Buruh Harus Beradaptasi Di Era Revolusi Industri 4.0

Tanggal Publish: 18/10/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Rekson Silaban Majelis Penasihat Organisasi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (MPO-KSBSI) mengatakan, serikat buruh harus bisa merubah paradigma gerakannya di era revolusi industri 4.0. Sebab, setiap jaman selalu memiliki tantangan sendiri. Apabila tantangan itu bisa diselesaikan maka serikat buruh itu akan tetap bertahan dan menjadi sejarah gerakan.

Lanjutnya, dia mengatakan di era revolusi industri 4.0 paradigma gerakan buruh bukan lagi seperti era Orde Baru (Orba) yang mengedepankan sikap perlawanan terhadap rezim otoriter. Justru tantangan sekarang adalah teknologi berbasiskan digitalisasi, otomatisasi dan robotisasi yang menyebabkan tenaga manusia tergantikan di perusahaan. Nah, kalau peran buruh banyak digantikan oleh teknologi, tentu akan berdampak pengurangan anggota serikat buruh.

“Namun dibalik ancaman ini, serikat buruh buruh tidak boleh cemas. Karena dibalik ancaman selalu ada peluang,” ujarnya saat memberikan materi workshop ‘Tantangan Peluang, Tantangan dan ancaman Serikat Buruh di Era Revolusi Industri 4.0’ pada agenda Rakernas FSB GARTEKS KSBSI, di Hotel Aston Pandanaran, Kota Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.               

Di era revolusi industri 4.0, ia memaparkan ada beberapa sektor pekerjaan yang akan hilang untuk kedepannya. Tapi untuk sektor garmen dan tekstil, dia mengatakan tak usah kuatir karena masih tetap berpotensi merekrut tenaga manusia.

Walau sektor garmen dan tekstil masih berpotensi, tapi dia  menjelaskan tahun 2045 potensi dunia kerja terbesar di sektor jasa sebesar 64,2 persen. Sementara industri garmen dan tekstil masuk kategori sektor industri sebesar  21,3 persen. Oleh sebab itulah, Rekson menyarankan FSB GARTEKS KSBSI tidak hanya fokus merekrut sektor industri. Tapi sudah terbuka dengan sektor industri lainnya sesuai perubahan jaman.

Selain itu, dia juga menyampaikan pada agenda Rakernas yang diadakan tahun ini semua pengurus harus bisa mengevaluasi kekuatan dan kelemahan organisasi. Sebab, menjamurnya serikat buruh, LSM sekarang ini dalam mengadvokasi kepentingan buruh.       

“Mengingat semakin banyak tantangan yang dihadapi era revolusi industri 4.0, maka salah satu solusinya FSB GARTEKS KSBSI harus semakin meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dari tingkat pengurus sampai anggota supaya kita tidak kalah daya saing,” terangnya.

Termasuk, keahlian dalam kemampuan berunding terhadap pengusaha dan pemerintah pun juga sebaiknya semakin ditingkatkan. Sebab pola gerakan buruh hari ini tak hanya bisa melakukan advokasi saja, kemampuan melobi juga harus dimiliki dalam penerapan agenda sosial dialog.

“Saya juga berharap agar FSB GARTEKS KSBSI tetap solid menjaga organisasinya. Kalau terjadi konflik dan perpecahan, posisi tawar gerakan kita akan lemah dihadapan pengusaha dan pemerintah,” ungkapnya.

Intinya, dia mengatakan dalam dunia serikat buruh FSB GARTEKS KSBSI tidak boleh membangun paradigm bahwa pengusaha dan pemerintah selamanya musuh serikat buruh. Dalam satu sisi, pengusaha dan pemerintah juga harus dijadikan mitra untuk kepentingan untuk memperjuangkan hak buruh.

“Namun menjadikan mereka sebagai mitra bukan berarti tunduk. Kita harus tunjukan bahwa FSB GARTEKS serikat buruh yang modern dan memiliki kemampuan konsep intelektual” tutupnya. (AH)