ID ENG

Minimnya Keahlian Tenaga Kerja Masih Menjadi Dilema

Tanggal Publish: 02/04/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Menyambut era bonus Demografi 2030, M. Hanif Dhakiri, Menteri Tenaga Kerja (Menaker), mengatakan peluang Indonesia dalam peluang kerja sangat terbuka lebar. Ditambah lagi, iklim ekonomi Indonesia dikawasan Asia semakin terus membaik. Namun, yang menjadi tantangan untuk kedepannya, Menaker mengatakan bukan persoalan terbukanya lapangan kerja. Melainkan keahlian (skill) calon angkatan muda kerja Indonesia hari ini masih banyak kelemahannya.

Dia memprediksi, setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi), fokus membangun berbagai sektor infrastruktur diberbagai daerah, maka keinginan investor asing dan lokal pun akan terpenuhi untuk membangun perusahaan. Sehingga, lapangan kerja secara alami pun nantinya akan terbuka. Oleh sebab itulah, Menaker menegaskan persoalan Indonesia mau tidak mau harus mengejar ketertinggalan masalah skill kerja.

“Mendekati 5 tahun kepemimpinan pak Jokowi, pemerintah telah berhasil membuka lapangan kerja sebanyak 10 juta orang lebih. Walau berhasil mengukir prestasi, tapi ini bukan menjadi kepuasan, karena kedepannya persoalan bangsa ini harus bisa bersaing dengan tenaga kerja asing (TKA) yang masuk ke Indonesia,” ujarnya, dalam kata sambutan "The 6th ASEAN Oshnet Conference" di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Salah satu yang solusi yang harus segera diatasi dalam menghadapi era bonus demografi 2030, pemerintah memang kembali menggalakan program pelatihan (vokasi). Peralatan program vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK) dari tingkat pusat sampai daerah terus diperbaharui, sesuai kebutuhan perkembangan era revolusi industrialisasi 4.0.     

Hanif beralasan, dengan menggalakan program vokasi, maka setidak-tidaknya Indonesia bisa menjawab tantangan persaingan kerja untuk kedepannya. Sebab, sampai hari ini, mayoritas pekerja di Indonesia, baik pekerja informal maupun informal masih didominasi lulusan SMA/SMK dan SMP. Dimana, jenjang tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM).

Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), dari jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 131 juta orang dan 58 persen dominasi lulusan SD dan SMP yang minim memiliki skill tenaga kerja. Disisi lain, versi BPS juga menyampaikan, bahwa pada bulan Agustus tahun 2018, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), khususnya bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencapai 11 persen.  Sementara TPT lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,95 persen.

Tentu saja, akibat masih rendahnya skill kerja bagi lulusan tingkat SMK/SMA, menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah untuk menyelesaikannya. Tak ada kata terlambat, sebelum nasi menjadi bubur. Sebab, ancaman kedepannya bukan masalah terbukanya lapangan kerja, melainkan akan masuknya TKA bekerja yang bisa jadi nantinya bisa menguasai sektor inti. Tak ada guna, jika investor yang masuk ke Indonesia membuka lapangan kerja, bangsa ini sekadar menjadi penonton dan ini menjadi PR yang harus diselesaikan. (AH)