ID ENG

Menghadapi Revolusi Industrialisasi 4.0 Harus Meningkatkan SDM

Tanggal Publish: 04/03/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Tak bisa dibantah, ditengah bangsa Indonesia sedang beradaptasi dengan perkembangan revolusi industrialisasi 4.0, kualitas sumber daya manusia (SDM) nya juga masih tertinggal jauh dari negara-negara ASEAN. Padahal, banyak pengamat lembaga analisa ekonomi memprediksi, pada tahun 2030 nanti, Indonesia memasuki era ‘Bonus Demografi’. Dimana, bonus demografi merupakan era kebangkitan perekonomian Indonesia dan salah satunya terkuat diwilayah Asia.

Ditengah kekuatiran karena minimnya SDM Indonesia menyambut era bonus demografi, tentu saja pemerintah harus bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) tersebut. Sekarang ini, pemerintah memang telah berupaya untuk menggalakan program pelatihan (vokasi) dari tingkat pusat sampai daerah. Berbagai macam peningkatan keahlian dunia tenaga kerja telah dibuka di Balai latihan Kerja (BLK), agar nantinya calon angkatan kerja siap bersaing di era revolusi 4.0.

Dalam acara seminar "Pekerjaan Masa Depan: Dampaknya Bagi Kaum Muda dan K3" di Jakarta, berapa waktu lalu,Direktur ILO Jakarta, Michiko Miyamoto, menyampaikan kehadiran revolusi industri 4.0 ditengah kehidupan manusia memang tak bisa dihalangi. Sebab, kebutuhan teknologi disetiap perkembangan jaman selalu memiliki dampak dan positifnya kepada kehidupan manusia. Dia tak membantah, jika kehadiran teknologi revolusi 4.0, telah banyak menghilangkan pekerjaan manusia dlam perusahaan. Tapi disatu sisi juga menciptakan lapangan kerja baru.

Oleh sebab itulah, dia menegaskan beradaptasi dengan teknologi di era revolusi 4.0 adalah sebagai solusinya dengan cara meningkatkan kualitas SDM. “Kehadiran revolusi industri 4.0 tidak hanya menghilangkan pekerjaan lama dan menciptakan pekerjaan baru. Tapi juga mengubah mekanisme budaya kerja termasuk  sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),” ungkapnya.

Sementara itu, M. Hanif Dhakiri, Menteri Tenaga Kerja (Menaker), menyampaikan bahwa tantangan besar Indonesia untuk kedepannya memang harus mempersiapkan kualitas SDM, khususnya kepada generasi muda. “Sebab, generasi muda tanpa dibekali bekal pendidikan, karakter dan berbagai macam keahlian, maka daya saing kerja Indonesia akan kalah dengan bangsa lain,” ujarnya.

Lanjutntya, dia memaparkan peningkatan kualitas tenaga kerja dapat dilakukan melalui tiga jalur utama. Pertama melalui jalur pendidikan, kedua melalui jalur pelatihan kerja, dan ketiga melalui jalur pengembangan karier di tempat kerja. Karena dengan jalur pendidikan menjadi kunci membangun pondasi yang kokoh untuk pengembangan kualitas tenaga kerja.

 "Jika jalur pendidikan fokusnya membangun pondasi kompetensi dasar tenaga kerja, maka jalur pelatihan kerja berfokus pada pembangunan dan pengembangan pilar-pilar kompetensi kerjanya yang nantinya akan dimantapkan di tempat kerja melalui pengembangan karier dan profesionalisme tenaga kerja," tutup Hanif. (AH)