ID EN

Melemahnya Nilai Rupiah Yang Mengancam Industri Garteks

Tanggal Publish: 21/09/2018, Oleh: DPP FSB Garteks

Ancaman nilai mata uang rupiah ke mata uang dolar AS, terbilang belum stabil sampai saat ini. Sebelumnya, nilai tukar mata uang rupiah sempat menembus angkla Rp 14.800 per dolar AS. Untungnya, nilai mata uang rupiah mengalami penguatan, sehingga pemerintah sejenak bisa menarik nafas. Beberapa pengamat ekonomi menjelaskan, dampak menurunnya nilai mata uang rupiah, karena dampak krisis ekonomi secara global. Bahkan, negara Amerika Serikat sendiri sampai sekarang belum bisa memulihkan krisis keuangan mereka.


Ditengah ketidakpastian nilai tukar mata uang rupiah, Sri Mulyani, Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan beberapa waktu lalu juga mencoba menenangkan masyarakat. Kepada wartawan ketika diwawancarai, Sri Mulyani, yang juga mantan Direktur Eksekutif IMF, menegaskan masyarakat dan pengusaha tidak perlu kuatir terhadap melemahnya nilai mata uang rupiah. Dia memaparkan dampak melemahnya nilai rupiah terhadap dolar, salah satunya akibat krisis moneter di negara Turki. Sehingga ada dampaknya terhadap nilai tukar mata uang rupiah.


“Namun dampak dari krisis moneter negara Turki terhadap Indonesia tidak terlalu berdampak pada keadaan perekonomian negara kita dan masih aman,” ujarnya, di Jakarta.


Tegasnya, Menkeu meyakinkan walau nilai tukar mata uang rupiah belum stabil, namun kondisi ekonomi Indonesia masih kuat dilihat dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2018 cukup kuat. Hal itu didukung karena perkembangan investasi dan ekspor Indonesia sekarang ini sedang naik daun. Jadi, walau nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, tidak ada dampak besarnya, karena harga pokok ditengah masyarakat tetap stabil. Intinya, untuk mengantisipasi ancaman krisis ekonomi global, pemerintah tetap hati-hati melakukan kebijakan ekonomi.


Ditengah Menkeu menenangkan masyarakat agar tak perlu kuatir terkait melemahnya nilai tukar mata uang rupiah yang belum stabil, ternyata pengusaha garmen dan tekstil (Garteks) sedang mengalami kegelisahan. Pasalnya, akibat pelemahan mata uang rupiah, langsung terjadi pembengkakan biaya produksi yang berlipat-lipat dalam perusahaan. Sehingga mereka mengalami kepanikan dan harus mencari subsidi biaya produksi.


Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman, langsung tak membantah ketika nilai mata uang rupiah mengalami pelemahan, sangat berdampak pada pengusaha. Akhirnya, mau tidak para pengusaha memutuskan solusi dengan cara meningkatkan biaya jual hingga delapan persen.
“Mau bilang apalagi, kalau tidak meningkatkan biaya jual produksi, pengusaha bisa gulung tikar. Soalnya bahan baku yang dibeli pengusaha dari luar negeri dengan mata uang dolar AS. Ya kalau mata uang dolar lagi naik, terpaksa pengusaha membelinya bisa lebih dari dua kali lipat harga yang normal. Sementara, penjualan hasil produksi dengan rupiah,” pungkasnya.


Ade Sudrajat berharap, pemerintah segera mengatasi nilai tukar mata rupiah ke dolar yang sekarang ini belum stabil. Hingga saat ini, dia menjelaskan pengusaha masih melihat reaksi dan peluang pasar pengusaha masih melihat reaksi pasar. Karena tidak mau terjebak kerugian yang besar akibat persoalan yang sedang dihadapi.


Sementara itu, di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, puluhan ribu pabrik tekstil rumahan yang selama ini beroperasi, sedang mengalami ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Alasan terjadinya ancaman PHK karena memang ada pelemahan mata uang rupiah. Dikabarkan juga, pengusaha sedang berencana untuk merumahkan karyawannya, apabila mata uang rupiah tidak memulih.


Penyebab membengkaknya biaya produksi, karena selama ini pengusaha masih bergantung dari luar negeri, seperti membeli benang dengan membeli mata uang dolar. Sebagai contoh, harga benang yang dibeli sekarang ini sempat naik naik menjadi 40 persen atau Rp 35 ribu per kilogram. Sementara, pengusaha dalam tiap minggu rata-rata harus membeli 10 hingga 15 ton benang. Sementara, modal pengusaha yang ada Majalaya, selama ini modalnya terbatas.


Sekarang ini, pengusaha yang ada di Majalaya, hanya berharap campur tangan pemerintah untk ikut campur membantu persoalan yang terjadi. Sebab, kalau pemerintah tidak cepat membantu, kemungkinan para pengusahan akan gulung tikar, karena tingginya membeli bahan baku. Walau pun nantinya terjadi PHK terhadap pekerja mereka, itu mungkin satu-satunya jalan akhir bagi pengusaha. (AH/berbagai sumber)