ID EN

Ketum FSB GARTEKS KSBSI: Kerja Keras Tahun Ini Banyak Meraih Prestasi, Tahun 2019 Harus Lebih Nyata

Tanggal Publish: 21/12/2018, Oleh: DPP FSB Garteks

Ary Joko Sulistyo, Ketua Umum (Ketum) DPP FSB GARTEKS KSBSI, menyampaikan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena organisasi yang dipimpinnya dalam satu tahun ini telah banyak membuat prestasi. Terutama, prestasi dalam membangun organisasi buruh yang lebih modern dan memberikan berbagai program pelatihan kepada pengurus tingkat DPC, pengurus komisariat (PK) dan anggota.

Tidak lupa juga, dia juga bersama jajaran tingkat DPP FSB GARTEKS KSBSI menghaturkan banyak terima kasih kepada mitra kerjasamanya dari luar negeri. Karena telah banyak memberikan sumbangsih bantuan. Sehingga FSB GARTEKS KSBSI mampu berkiprah dan berjalan dinamis sampai sekarang.   

“Hampir semua keinginan pengurus tingkat cabang dan aggota sudah hampir terpenuhi dengan diberikan berbagai macam program pendidikan dan pelatihan. Saya berharap dari berbagai pelatihan dan pendidikan yang sudah diberikan, kualitas sumber daya manusia (SDM) semakin meningkat untuk membesarkan organisasi,” ujar Ary, waktu diwawancarai, di Kantor KSBS, Cipinang Muara, Jakarta Timur, Jumat, 21 Desember 2018.  

Adapun bentuk program selama satu tahun ini yang sudah dilaksanakan seperti pelatihan dan pendidikan Gender Bassed Violence (GBV), Teknik pelatihan pembuatan dan negoisasi perjanjian kerja bersama (PKB) dalam perusahaan, training leadership (kepemimpinan) organisasi buruh, Struktur Skala Upah, pelatihan teknik advokasi dan kampanye serikat buruh, pelatihan Data Base, Manajemen dan Pengorganisiran buruh, pelatihan Women Conference dan berbagai pelatihan analisa perkembangan serikat buruh.

Lanjutnya, Ary menjelaskan terkait agenda pelatihan women conference, memang telah menjadi perhatian bersama bagi FSB GARTEKS KSBSI untuk dijadikan agenda perjuangan bersama kedepannya. Pasalnya, kasus kekerasan buruh perempuan dalam dunia kerja masih terbilang tinggi. Terlebih lagi, ketika mereka mengalami kekerasan, pelecehan seksual dan intimidasi, masih banyak yang tidak berani melaporkannya ke pihak penegak hukum, karena masih dianggap tabu oleh keluarga.

Oleh sebab itulah, Ary menyampaikan di tahun 2018 ini, FSB GARTEKS KSBSI memang fokus membuat program pelatihan GBV dan Women Conference dengan melibatkan laki-laki dan perempuan. Dimana tujuannya untuk membangun kesadaran bersama agar terlibat advokasi dan kampanye ke tiap perusahaan. Supaya perusahaan juga ikut terlibat menerapkan aturan ketat agar bebas dari kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan.

Ditambahkannya juga, program pendidikan Women Conference merupakan pelatihan yang pertama kali diterapkan dan FSB GARTEKS KSBSI yang mempeloporinya. Dimana juga, tujuan utama pelatihan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan buruh perempuan dari tingkat DPC sampai PK. Harus diakui, beberapa tahun lalu, minat dan kesadaran buruh perempuan untuk menjadi pemimpin di FSB GARTEKS KSBSI memang masih minim.

“Namun sejak kami menggiatkan berbagai macam pelatihan dan pendidikan serta banyak melibatkan mereka, akhirnya semangat buruh perempuan semakin tumbuh subur sejak dua tahun ini. Aura dan mental kepemimpinan pun sudah terlihat menjadi regenerasi pemimpin buruh mewakili kaum perempuan,” terangnya.

Selain itu, dia juga menyampaikan FSB GARTEKS KSBSI di tahun 2019 nanti juga mulai akan mengembangkan pelatihan jurnalis dan media kepada pengurus dan anggotanya. Dia menilai, media digital di era sekarang ini sudah menjadi kebutuhan organisasi sebagai alat perjuangan untuk  menyampaikan kegiatan program dan kampanye kepada publik. Tegasnya, dia berharap dengan mulainya fokusnya FSB GARTEKS KSBSI terhadap program jurnalis dan media, diharapkan nantinya bisa melahirkan kader buruh yang handal dalam kualitas menulis untuk mengkampanyekan isu-isu perjuangan organisasi.

Harus Lebih Nyata                                                                 

Waktu ditanya bagaimana perkembangan hasil program pelatihan PKB yang dilakukan tahun ini, dia menjawab sangat banyak manfaatnya bagi pengurus tingkat PK. Khususnya, ketika dalam proses negoisasi PKB, pihak perwakilan perusahaan pun sudah banyak menerima konsep PKB yang dibuat FSB GARTEKS KSBSI, karena tak ada merugikan pihak perusahaan. Atau kesimpulannya tidak ada yang saling dirugikan, namun saling diuntungkan.

“Artinya, ketika banyak pengurus PK dalam merumuskan dan melakukan proses negoisasi dalam perundingan PKB, telah berhasil menunjukan parameternya. Bahwa pelatihan PKB yang rutin dilakukan sangat bermanfaat dan memiliki posisi tawar yang tinggi dihadapan pengusaha dan pemerintah,” ujarnya.

Terkait masalah pengembangan tingkat DPC, Ary juga mengatakan tahun 2018 ini sudah memiliki cabang baru, seperti di Wilayah Jawa Tengah (Semarang, Wonogiri, Karanganyer, Boyolali). Untuk wilayah Jawa Barat, seperti di Kabupaten Majalengka. Untuk wilayah Kabupaten Brebes, Jepara, Boyolali sedang dalam tahap penjajakan dan menjadi target tahun 2019 nanti.

“Tentu saja, ketika FSB GARTEKS KSBSI berhasil membuka DPC diwilayah baru, maka akan bertambah jumlah perwakilan PK ditingkat perusahaan dan anggota semakin bertambah. Untuk sementara saja, ini total di Semarang, sudah ada 12 PK tingkat perusahaan. Lalu di Karanganyer ada dua perusahaan, Wonogiri ada 1 perusahaan  yang bergabung,” ungkapnya.

Intinya, dia berharap tahun 2019 nanti, FSB GARTEKS KSBSI semakin solid dan militant dalam mengembangkan sayap organisasinya dan diterima buruh. Sebab, untuk membangun organisasi buruh dan menciptakan SDM yang berkualitas disebuah wilayah dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk itulah, satu-satunya kekompokan dari tingkat DPP, DPC, PK sampai anggota memang dibutuhkan untuk membesarkan organisasi, selain urusan biaya. 

Setelah satu tahun DPP FSB GARTEKS KSBSI memberikan berbagai program pelatihan dan pendidikan, dia berharap semua ilmu yang sudah dibekali kepada pengurus dan anggota bisa diterapkan di perusahaan dan kebutuhan organisasi. FSB GARTEKS KSBSI memang belum menjadi organisasi besar dibandingkan dengan serikat buruh lainnya. Tapi dia mempunyai obsesi FSB GARTEKS KSBSI di tahun 2019 nanti semakin maju dan menjadi organisasi buruh yang modern dengan mengedepankan pola Sosial Dialog dengan perusahaan dan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan.

Baginya, mengedepankan sosial dialog dianggapnya bagian solusi alternativ dalam menyelesaikan setiap persoalan buruh. Tradisi aksi demo buruh, bagi Ary harus tetap dilakukan, tapi aksi itu dilakukan ketika kepentingan buruh tidak terakomodir lagi dalam sebuah dialog.

“Melewati tahun 2018 ini seluruh pengurus tingkat DPP, DPC sampai PK telah bekerja keras bersam-sama membangun organisasi menjadi lebih solid dan modern. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka. Semoga tahun 2019 nanti kerja-kerja keras FSB GARTEKS KSBSI lebih nyata dan bermanfaat bagi buruh sesuai perkembangan jaman,” tutupnya. (AH)