ID EN

Kemampuan Menulis Itu Perlu Bagi Aktivis Buruh

Tanggal Publish: 04/10/2018, Oleh: DPP FSB Garteks

Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) baru-baru ini melakukan kegiatan pelatihan jurnalis dalam memetakan isu-isu perjuangan serikat buruh. Agenda pelatihan bekerja sama dengan Solidarity Center dan pesertanya perwakilan federasi yang berafiliasi dengan KSBSI. Sebagai pemberi materi pelatihan, panitia menghadirkan Maria Etti, wartawan senior dan sekarang menjadi penulis.


Dalam paparan materinya, Maria, menceritakan pengalamannya ketika masih bergelut dalam dunia wartawan, dirinya sangat akrab dengan kehidupan dunia buruh. Baginya, urusan melakukan investigasi kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa buruh kerap dia beritakan. Karena sering ditugaskan liputan tentang dunia perburuhan, akhirnya dia juga banyak berteman dengan aktivis serikat buruh/pekerja waktu itu.


“Waktu itu saya sangat memahami karakter aktivis buruh yang sangat militan ketika membela hak-hak buruh yang mengalami penindasan. Banyak juga pimpinan aktivis buruh yang memperjuangkan upah yang layak dan hak kesejahteraan akhirnya nasib mereka berujung terkena PHK juga dan tugas saya memberitakannya, ” ujarnya, di gedung Cimandiri One, Cikini, Jakarta Pusat, berapa waktu lalu.


Tak hanya itu saja, kasus pemberangusan serikat buruh yang dilakukan oleh perusahaan pun kerap sering dia jumpai ketika terjun liputan. Biasanya hal itu terjadi, berhubung pimpinan perusahaan tidak suka kehadiran serikat buruh. Sehingga, pimpinan serikat buruh dalam perusahaan kerap mendapat perlakuan diskriminasi dengan mencari kelemahan dan kesalahan.


Dia mengakui, perjuangan aktivis serikat buruh sangat militan dalam membela hak-haknya. Tapi semangat militan dengan cara melakukan mengorganisir dan advokasi belum menjadi jaminan untuk memenangkan perjuangan. Intinya, dia menambahkan, militansi aktivis buruh dalam gerakan menulis juga sangat penting, terlebih di era digitalisasi yang sedang berkembang. Dengan memiliki kemampuan menulis, maka publik akan lebih tahu apa yang sedang dikampanyekan dan diperjuangkan aktivis buruh lewat media online dan media sosial (Medsos).


Untuk itulah, ketika aktivis buruh juga bisa menguasai dunia menulis lewat pengetahuan jurnalis, maka semakin mempercepat perjuangannya diketahui masyarakat luas. Sekarang ini juga katanya, masyarakat tidak susah lagi belajar panduan metode dasar dan lanjutan tentang ilmu jurnalis. Sebab, di era digitalisasi, seperti Google, Youtube, sudah banyak menyediakan fasilitas pengetahuan tentang jurnalis.


“Atau kalau ingin cara yang terbaik adalah dengan mengikuti atau melakukan pelatihan jurnalis juga lebih baik,” terangnya.


Tepatnya, Maria mengatakan untuk memahami prinsip jurnalis, maka prinsip yang harus pegang adalah rumus 5W 1H (what, where, who, when, why, plus how). Dimana, rumus 5W H1, merupakan metode dasar pengembangan pemberitaan yang sedang diliput yang nantinya diwujudkan dalam penulisan berita.


“Kalau dalam pembuatan berita tidak memakai rumus 5W 1H, maka akan berdampak terhadap hasil penulisan berita yang kita sampaikan. Karena hasil berita yang ditulis nantinya tidak akurat keterangannya, sehingga bisa membingungkan pembaca,” jelasnya.


Maria juga menegaskan tulisan berita yang dibuat harus memiliki bagan yang tersusun. Atau perempumaannya, tulisan berita itu seperti anatomi tubuh manusia. Seperti ada judul berita, pengantar isi pemberitaan , kemudian penjelasan persoalan yang terjadi, lalu tanggapan narasumber dan terakhir penutup berita. Intinya, dalam membuat berita, tugas seorang jurnalis bagaimana menghasilkan karya berita yang membuat orang untuk tertarik membacanya dari awal sampai akhir berita.


Dalam membuat pernyataan sikap atau press release, untuk disampaikan kepada media, terkait persoalan seperti pembelaan kasus buruh yang terkena kasus pemutusan hubungan kerja (PHK). Sarannya, untuk bisa menguasai keahlian dunia jurnalis, memang dibutuhkan sebuah niat belajar dari kita sendiri.


“Salah satunya dengan membiasakan rutin budaya menulis setiap harinya. Saya yakin, lama-lama kita nantinya akan terasah dan tajam dalam menghasilkan karya tulisan jurnalis,” jelasnya.


Pada tahun 2004, dia juga melahirkan karya novel yang berjudul “Hayuri”, sebuah novel yang menceritakan kisah perjalanan seorang buruh perempuan yang mengalami korban sejarah tragedi 1965. (AH)