ID ENG

Ini Perspektif Ketum DPP FSB GARTEKS Tentang Varian Omicron, Strategi Gerakan dan Tahun Pemulihan Ekonomi

Tanggal Publish: 20/01/2022, Oleh: DPP FSB Garteks

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri (DPP FSB GARTEKS) mengatakan optimis, pada 2022 ini Indonesia  bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19. Karena itu, dia mengajak semua pengurus dan anggotanya ikut  berperan dalam agenda pemulihan ekonomi yang akan dijalankan oleh pemerintah.

“Selama niatnya pemerintah baik mengatasi krisis pandemi, DPP FSB GARTEKS pasti mendukung,” ujarnya,  saat diwawancarai di Cipinang Muara, Jakarta Timur, Rabu (19/1/2022).

Saat menjalankan agenda pemulihan ekonomi, Ary Joko mengingatkan pemerintah agar melibatkan aktivis buruh berdialog dalam mencari penyelesaian masalah perburuhan. Artinya, ada baiknya pemerintah tidak lagi membuat regulasi ketenagakerjaan yang kontroversial. Agar menghindari kegaduhan politik, antara buruh, pemerintah dan pengusaha.  

“Saran saya, sebelum menerbitkan peraturan sebaiknya perwakilan serikat buruh/serikat pekerja dilibatkan saja. Agar nantinya bisa membuat kebijakan yang bisa menguntungkan semua pihak,” ujarnya.

Awal tahun 2022 ancaman Covid-19 varian Omicron semakin menyebar diberbagai negara, termasuk Indonesia. Sarannya, pemerintah harus siaga mengantisipasinya. Begitu juga dengan masyarakat juga harus tetap waspad. Serta mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes), untuk mencegah penyebaran virus yang mengancam kesehatan manusia ini.

Dia yakin, pemerintah sudah berpengalaman mengatasi pandemi selama 2 tahun ini. Kalau pun nanti terjadi ledakan varian Omicron, dampaknya tidak begitu parah seperti Covid-19 dan varian Delta. Alasannya, tahun kemarin pemerintah sangat gencar melakukan vaksinasi 1 dan 2 untuk masyarakat. Bahkan melibatkan FSB GARTEKS melakukan vaksinasi massal ke perusahaan tempat buruh bekerja.

“Berdasarkan data pada akhir Desember 2021, masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi tahap 2 sudah 100 juta orang. Sedangkan penerima vaksinasi 1 mencapai 208 juta orang. Kalau kita melihat data sekarang ini, orang yang terpapar varian Omicron tingkat kesembuhan mereka juga tinggi,” ungkapnya.

Selain itu, ia menegaskan masyarakat tidak terlalu panik berlebihan menghadapi ancaman varian Omicorn, tapi tetap waspada. Sebab, virus ini dinilai tidak begitu ganas seperti varian Delta. Karena sebagian besar masyarakat sudah memiliki kekebalan tubuh melalui program vaksinasi.

“Kalau pun nanti varian baru ini ada dampaknya, mungkin tidak terlalu siginifikan,” jelasnya.

Termasuk, varian Omicron belum begitu berdampak pada indstri manufaktur yang mempekerjakan ribuan orang. Seperti perusahaan industri garmen, tekstil dan kulit. Sampai hari ini dalam urusan ekspor-impor antar negara juga belum ada memberlakukan lock down. Karena, kalau kebijakan ini diberlakukan kembali akan sangat mempengaruhi perekonomian negara masing-masing.

“Saya nilai, varian Omicron ini lebih berdampak pada sektor bisnis pariwisata, perhotelan dan transportasi. Sebab pemerintah sedang membuat kebijakan ketat untuk membatasi keluar masuknya warga negara asing dan warga Indonesia, dengan memberlakukan aturan karantina,” ucap Ary Joko.

Optimis Bangkit

Intinya, dia yakin pada 2022 ini Indonesia bangkit dari keterpurukan ekonomi dan pemerintah bisa mengundang investor membuka lapangan kerja. FSB GARTEKS pasti terlibat melakukan agenda sosial dialog dengan pemerintah, pengusaha untuk menyelesaikan kasus ledakan pengangguran akibat pandemi yang terjadi 2 tahun ini.

Selain itu, Ary Joko menjelaskan, sebenarnya dimasa pandemi FSB GARTEKS sudah berinisiatif melakukan kerja sama atau join comitmen. Dengan membuat kesepakatan bersama dengan organisasi pengusaha seperti APINDO, API, APRISINDO untuk memastikan keberlangsungan usaha. Serta meminimalisir ledakan kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tidak bertambah.

“Semoga tahun ini pandemi semakin mereda. Supaya FSB GARTEKS bisa melanjutkan agenda join komitmen dengan perwakilan organisasi pengusaha. Tahun ini kami juga sedang mempersiapkan draft agenda sosial dialog untuk membahas penanganan situasi Covid-19 maupun pasca pandemi,” bebernya.

Dampak pandemi mengakibatkan ribuan anggotanya banyak kehilangan pekerjaan. Karena itu, dia FSB GARTEKS tetap berusaha mendorong pemerintah agar membuka lapangan pekerjaan. Lalu akan melakukan konslidasi tim organiser untuk perekrutan anggota baru tiap perusahaan. Dan untuk target perekrutan tahun ini, dia menargetkan 3000 sampai 5000 buruh diberbagai daerah.

“Contohnya, untuk di Jawa Barat kami akan menargetkan perekrutan buruh seperti di Kabupaten Majalengka, Cirebon dan Indramayu. Karena diwilayah ini upah buruhnya masih murah, jadi memang perlu bantuan advokasi untuk meningkatkan kesejahteraaan mereka,” ujarnya.

“Saya yakin tahun ini pertumbuhan ekonomi negara kita semakin tumbuh. Apalagi didukung dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai dan jumlah tenaga kerja yang produktif. (AH)