ID ENG

IndustriAll: Tak Ada Pekerjaan Layak Tanpa Perlindungan Sosial

Tanggal Publish: 07/10/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Setiap tanggal 7 Oktober diperingati ‘International World Days for Decent Work’ atau hari Kerja Layak Internasional. Pada momen penting ini, Christina Hajagos-Clausen dari IndustriALL mengupas tentang dampak pandemi Covid-19 pada pekerja garmen. Serta melakukan kampanye global untuk mencapai perlindungan sosial bagi para pekerja.  

IndustriALL berhasil melakukan riset dan wawancara dengan beberapa pekerja dari Negara Bangladesh, mengenai nasib mereka dimasa pandemi Covid-19. Diantaranya dengan Pavi. Ia kehilangan pekerjaannya dua tahun lalu. Dan sebelumnya bekerja sebagai operator di sebuah pabrik garmen di selama lebih dari satu dekade. Setelah pengangguran, dia tak memiliki penghasilan tetap dan penghasilan serta berjuang menghidupi ketiga anaknya.

“Saya punya tiga anak yang sedang sekolah semua dan kondisi suami sedang sakit parah (lumpuh). Saya terpaksa mencari sumber nafkah keluarga. Saya benar-benar sudah tidak kuat menghadapi masalah ini, karena setiap hari harus banyak mengeluarkan biaya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.

Sekadar tahu, negara-negara produksi garmen, salah satunya seperti di Bangladesh memberikan pajak rendah dan regulasi longgar kepada merek-merek besar. Tapi hanya sedikit merek yang memenuhi kewajiban mereka kepada  para pekerja pabrik.

Pandemi Covid-19 juga telah memperparah kondisi para pekerja di sektor garmen. Hal ini dialami oleh Shayan. Dia diminta meninggalkan pekerjaannya setelah sibuk merawat istrinya yang jatuh sakit, sehingga jarang masuk kerja. Ia bekerja diperusahaannya selama hampir lima tahun.

“Istri saya terkena sakit kanker dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit karena dia tertular Covid. Ketika kembali bekerja di pabrik, pihak perusahaan mengatakan mulai besok saya jangan masuk kerja lagi. Mereka juga saat bicara ke saya dengan nada sangat kasar,” ungkapnya.

Tak lama kemudian, istrinya meninggal. Dia pun harus membesarkan putranya yang berusia 9 tahun dengan sendirian. Dan sekarang bekerja sebagai penarik rickshaw untuk memenuhi kebutuhan hidup. Waktu dia dipecat, pabrik belum membayar semua hak-haknya. Namun berkat bantuan dari serikat buruhnya dan IndustriALL, ia berhasil mendapatkan sebagian uang yang menjadi haknya, walau tidak semuanya.

“Sekarang saya berusaha agar anak laki-laki saya bisa mendapatkan pendidikan yang baik untuk kedepannya,” kata Shayan.

Selain mereka yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19, wabah virus ini juga telah merampas ribuan dari  pendapatan buruh mereka karena pabrik terpaksa tutup atau kehilangan pesanan. Manabi menangis ketika dia memberi tahu, bahwa pabrik tempat dia bekerja di finishing  selama lima tahun terakhir ditutup sejak enam bulan lalu.

Kondisi ekonominya saat ini tidak dapat membayar sewa rumah dan  membeli makanan. Dia juga terpaksa berhutang untuk kebutuhan sehari-hari serta menghadapi ancaman pengusiran dari pemilik rumah sewa.  

“Saya terpaksa berhutang, tapi tak bisa melunasinya. Sekarang tidak ada lagi yang  memberi kami uang. Jika anak saya meminta makan, saya tidak bisa memberikan apa-apa padanya,” ungkapnya.

IndustriALL menilai, Industri pakaian jadi global memberikan kekecewaan pada para pekerja ini dengan banyak merek masih berpegang teguh pada inisiatif sukarela dan audit masing-masing pabrik. Jika ingin mencapai pekerjaan yang layak di sektor garmen komitmen supply chain (rantai pasokan) harus dapat ditegakkan secara hukum.

Gerakan sukarela tidak dapat menghentikannya. Namun saat ini dibutuhkan perjanjian yang mengikat antara merek, produsen, dan serikat pekerja yang  menyediakan jaring pengaman yang layak bagi pekerja. Perjanjian Internasional tentang Kesehatan  dan Keselamatan di Industri Tekstil dan Garmen yang baru dirundingkan memberikan model  bagaimana seharusnya hubungan industrial rantai pasokan modern terlihat.

Selain itu, memperkuat power (kekuatan) serikat pekerja di dalam sektor ini adalah kuncinya. Mengorganisir  pekerja secara lokal akan menciptakan pengaruh yang lebih besar untuk menempatkan jaring  pengaman ini pada tempatnya. Dengan bergabung secara internasional, dan berpartisipasi dalam  kampanye global IndustriALL, serikat pekerja dapat membantu mengubah seluruh sektor menjadi  lebih baik.

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang kampanye IndustriALL terkait perlindungan sosial di sektor  garmen, hubungi chajagos-clausen@industriall-union.org. Dan nama-nama yang digunakan di atas telah diubah untuk melindungi identitas pekerja, tetapi  pekerja yang diwawancara semuanya berasal dari Bangladesh

Apa itu perlindungan sosial?

Perlindungan sosial adalah seperangkat kebijakan dan program yang dirancang untuk mengurangi  dan mencegah kemiskinan serta kerentanan di sepanjang siklus hidup. Perlindungan sosial meliputi  tunjangan bagi anak dan keluarga, maternitas, pengangguran, kecelakaan kerja, sakit, hari tua,  disabilitas, penyintas, serta perlindungan kesehatan.  Perlindungan sosial dapat diberikan oleh negara, melalui skema iuran atau manfaat yang dibiayai  pajak. Atau oleh pemangku kepentingan lain seperti pengusaha.

Industri Pakaian Jadi

Hampir 80 persen pekerjaan disektor pakaian pekerjanya adalah perempuan. Dimana, memiliki upah rendah, jam  kerja panjang, terpapar risiko kesehatan dan keselamatan kerja serta kekerasan dan pelecehan. Industri garmen padat karya, membutuhkan investasi rendah, teknologi rendah dan nilai tambah rendah. Sehingga manufaktur garmen terkonsentrasi di negara-negara miskin dan ekonomi berkembang.

Dampak ekonomi dari Covid-19 menyebabkan data impor pemerintah untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan selisih USD 16 miliar dalam impor pakaian untuk tahun 2020. Sebagian besar karena  pesanan yang dibatalkan. (Sumber: IndustriAll)