ID ENG

ILO: Sistem Pendidikan Online Dimasa Pandemi Covid-19 Mengancam Dunia Ketenagakerjaan

Tanggal Publish: 18/08/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Organisasi Buruh Internasional (ILO) menilai pandemi Covid-19 telah menurunkan produktivitas pendidikan bagi generasi muda. Pasalnya, hampir 70 persen generasi muda di dunia saat ini tidak lagi belajar dibangku pendidikan swekolah dan kuliah seperti biasanya, tapi melalui dunia online.

Menurut analisa ILO, cara belajar online yang dilakukan saat ini sangat berdampak pada kualitas pendidikan, mental dan keahlian ketika lulus dari dunia pendidikan. Berdasarkan data, ada 65 persen anak muda dilaporkan kurang belajar melalui kelas online dan jarak jauh. Terlepas dari upaya mereka untuk terus belajar dan berlatih, namun setengah dari mereka percaya studi mereka akan ditunda dan 9 persen berpikir bahwa mereka mungkin gagal.

Guy Ryder, Direktur Jenderal ILO mengatakan situasi pendidikan yang terjadi dimasa pandemi ini menjadi lebih buruk bagi kaum muda yang tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah. Sebab mereka akan kesulitan memiliki jaringan akses internet, maupun peralatan untuk mendukung belajar online.

 “Pandemi ini menimbulkan persoalan baru bagi kaum muda. Bahkan bisa menghancurkan mental dan masa depan mereka jika selama proses belajar mereka melalui online tidak didukung dengan baik,” ungkap Guy Ryder dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

ILO juga menyoroti dampak dari belajar digital ada 65 persen kaum muda di negara-negara maju hanya yang menikmati fasilitas belajar lewat online. Namun bagi negara-negara berpenghasilan rendah hanya 18 persen yang bisa belajar secara online.

Kemudian, berdasarkan laporan riset terdapat 38 persen telah berhenti dari dunia pendidikan, karena kesulitan biaya. Sebab pandemi yang sedang terjadi ini telah banyak menyebabkan orang tua mereka yang terpaksa kehilangan pekerjaan karena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Sehingga satu dari enam remaja harus berhenti bekerja sejak awal pandemi.

“Berdasarkan hasil survei kami menemukan bahwa 50 persen orang muda sedang mengalami kecemasan atau depresi akan berhenti dari dunia pendidikan, karena faktor ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19,” terangnya.

ILO menyerukan ditengah situasi pandemi, para pemimpin dunia harus bisa mendengarkan aspirasi generasi muda. Sebab, tongkat estafet kepemimpinan masa depan dunia ini ada ditangan mereka. “Tidak salah jika membuka ruang dialog dan mendengarkan saran mereka untuk mencari solusi pendidikan ditengah pandemi ini,” jelasnya.

Termasuk mempersiapkan langkah-langkah untuk membuka lapangan kerja bagi orang tua mereka yang sudah kehilangan pekerjaan. Sebab, salah satu kunci masa depan generasi muda ada ditangan orang tua mereka yang memberikan biaya pendidikan. (AH)