ID ENG

FSB GARTEKS KSBSI Jalin Kerjasama Dengan GBGWF

Tanggal Publish: 18/09/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Beberapa waktu lalu, Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban bersama perwakilan DPP FSB GARTEKS KSBSI melakukan kunjungan ke Negara Bangladesh untuk melakukan dialog perburuhan dengan Green Bangla Garment Workers Federation (GBGWF). Tujuan pertemuan itu membahas dialog isu perburuhan. Khususnya di sektor garmen dan sepatu yang difasilitasi oleh IIWE.

Tak hanya agenda dialog, kedua federasi buruh itu juga melakukan kesepakatan pendatanganan kerjasama (Mou). Dimana tujuan kerjasama itu kedepannya untuk memperkuat jaringan dan saling berbagi informasi serikat buruh lintas negara. Terutama mengenai kebebasan berserikat dan jaminan hidup layak seorang buruh di perusahaan.

Trisnur Priyanto Sekjen DPP FSB GARTEKS KSBSI mengatakan inti dari pertemuan itu merupakan ajang tukar informasi. Terutama membahas perkembangan revolusi industrialisasi 4.0 dan dampaknya terhadap buruh. Ia juga menjelaskan, hasil dari diskusi yang dilakukan, ternyata kedua federasi itu memiliki kelebihan dan kelemahan.

“Contohnya jika di Bangladesh seorang buruh perempuan melahirkan, mereka berhak mendapat cuti selama 4 bulan. Sementara di Indonesia masih 3 bulan,” ujarnya.

Namun ada hal-hal penting juga yang dipelajari GBGWF mengenai perkembangan gerakan buruh di Indonesia. Trisnur menceritakan salah satu kelemahannya federasi buruh di sektor gamen dan sepatu di Bangladesh sebenarnya terbilang banyak. Namun sayangnya, gerakan mereka masih terbilang lemah, khususnya dalam komunikasi.

Selama ini federasi buruh sektor garmen dan sepatu mereka masih berjuang masing-masing, atau belum bisa membangun kekuatan aliansi. Sementara di Indonesia, federasi garmen dan sepatu gerakannya sangat dinamis karena sudah mampu membangun aliansi.

“Setelah kami mempresentasikan tentang pentingnya membangun jaringan lintas federasi sektor garmen dan sepatu, akhirnya  GBGWF tertarik untuk menerapkan membangun aliansi,” ucapnya.

Ketika ditanya sejauh mana aktivis serikat buruh di Bangladesh dalam melakukan kampanye dan advokasi Gender Bassed Violence (GBV) dalam perusahaan, Trisnur langsung menjawab pada umunya mereka masih terkesan tertutup karena dianggap sensitif. Sementara, salah satu prioritas FSB GARTEKS KSBSI di Indonesia sedang gencar melawan diskriminasi dan kekerasan seksual dalam perusahaan.  

Selain itu, Trisnur juga mengetahui bahwa standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) didalam perusahaan pun masih jauh dari harapan. Sebab masih banyak buruh yang masih tidak menggunakan alas kaki sebagai pengaman ketika bekerja. Padahal banyak hal yang bisa menimbulkan bahaya penyakit dan kecelakaan jika tidak menerapkan standar K3. Oleh sebab itulah, FSB GARTEKS KSBSI menyarankan agar GBGWF untuk bisa mendorong agar dibuat kebijakan standart K3 di Bangladesh.

Waktu diajak mengunjungi salah satu pabrik garmen, Trisnur juga mengatakan bahwa konsep pabrik garmen di Bangladesh modelnya seperti apartemen. Dia menilai, model pabrik seperti itu dianggapnya tidak ideal karena bisa membahayakan kesehatan karena tidak melebar seperti pabrik garmen yang ada di Indonesia. Termasuk mesin dalam pabrik juga masih banyak yang lama. Sementara di Indonesia justru mesin pabrik garmen telah beralih ke teknologi canggih.

Dia berharap adanya kerjasama dengan GBGWF bisa menjadi federasi buruh yang lebih maju. Bisa membangun jaringan tingkat lokal sampai internasional. Serta bisa bisa menciptakan regenerasi kepemimpinan. Sebab, GBGWF terinspirasi ketika DPP FSB GARTEKS KSBSI mempresentasikan sistem pendidikan dan pengkaderan yang sudah berjalan baik selama ini. (AH)