ID ENG

Ditargetkan Tahun 2024, Kualitas SDM Indonesia Harus Meningkat

Tanggal Publish: 05/04/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Berdasarkan data terakhir tahun 2018, World Bank (Bank Dunia) merilis peringkat sumber daya manusia (SDM) negara Indonesia sebesar 0,53 atau berada diperingkat 87 dari 157 negara. Sementara, indeks SDM tertinggi diraih negara Singapura, sebesar  0,88, kemudian Jepang dan Korea Selatan sebesar 0,84. World Bank juga merekomendasikan, agar Indonesia segera memperbaiki kualitas SDM. Baik dari kualitas pendidikan dan kesehatan.

Hal itu mengingat tantangan ekonomi global kedepannya semakin ketat. Terlebih lagi, Indonesia diprediksi pada tahun 2030 akan mendapat bonus demografi ekonomi dan menjadi salah satu negara ekonomi terkuat di kawasan Asia Pasifik. Tentu saja, ketika Indonesia memasuki era bonus demografi, namun kualitas SDM lemah, bangsa ini pasti kalah saing dengan negara lain dan itu tak bisa dibantah.

Saat melakukan rapat koordinasi antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian PPN atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Darmin Nasution (Menteri Bidang Perekonomian) menjelaskan, tahun 2020 nanti, pemerintah sedang merumuskan peningkatan kualitas SDM. Hasil rapat itu dituangkan dalam rencana kerja pembangunan pemerintah (RKP) 2020.

“Ada dua program yang difokuskan dalam pembangunan Indonesia tahun 2020 nanti. Satu program pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan peningkatan kualitas tenaga kerja dalam bentuk program pelatihan (vokasi),” ujar Darmin kepada wartawan, Kamis kemarin, 04 April 2019.

Darmin menjelaskan, fokus dalam program peningkatan kualitas tenaga, pemerintah akan segera fokus pada program vokasi di tingkat SMU/SMK sampai Politeknik D3. Peningkatan kualitas SDM tak hanya fokus pada bidang industri saja. Pemerintah juga akan fokus meningkatkan SDM dibidang pertanian dengan melakukan modernisasi pertanian dari hulu sampai hilir. Intinya, program yang yangh dicanangkan ditargetkan sampai tahun 2024 untuk mencapai perbaikan kualitas SDM.

Sebelumnya juga, Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 bulan Agustus 2018, mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang paling tertinggi adalah lulusan tingkat SMK sebesar 11,25 persen. Bahkan TPT tersebut lebih tinggi dari Februari 2018 sebesar 8,92 persen. Artinya, fakta yang terjadi lulusan SMK menyumbang TPT tertinggi bagi tingkat pelajar dibanding lulusan tingkat SMA.

Pemerintah mengakui, alasan tingginya TPT bagi lulusan tingkat SMK, dikarenakan banyak guru yang tidak menguasai ilmu materim pelajaran ketrampilan kepada siswa. Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi revolusi industrialisasi 4.0, memaksa lulusan SMK harus bisa beradaptasi teknologi digitalisasi, otomatisasi dan robotisasi sesuai kebutuhan perusahaan dan pasar. (AH)