ID ENG

Dimasa Sulitnya Pandemi, Jokowi Diminta Harus Lebih Memihak Suara Rakyat Kecil

Tanggal Publish: 16/07/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Trisnur Priyanto Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Garmen Kerajinan Tekstil Kulit dan Sentra Industri Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DPP FSB GARTEKS KSBSI) meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih bijak dalam membuat kebijakan penanganan pandemi Covid-19. Pasalnya, ada keputusan yang dibuat, justru tidak membawa dilema bagi rakyat kecil.  

“Sebenarnya masyarakat mendukung penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tapi saya lihat kebijakan ini belum efektif. Karena berpeluang merugikan golongan menengah bawah,” ucap Trisnur yang dia tulis dilaman Facebooknya ‘Trisnur Garteks’ mengenai surat terbuka untuk Presiden Jokowi, Jumat (16/7/21).

Termasuk, bahwa fakta yang terjadi,  selama penerapan PPKM Darurat, ribuan buruh masih berjibaku di pabrik dan sangat rentan terpapar virus Corona. Ia meminta, dalam hal ini Presiden Jokowi harus memperhatikan kondisi buruh yang sedang bekerja. Termasuk soal wacana perpanjangan PPKM hingga 6 minggu yang sedang digodok pemerintah, sebaiknya dipikirkan kembali.                                

Sebab, setelah seminggu lebih penerapan PPKM Darurat sangat berimbas pada kalangan menengah bawah. Kebijakan tersebut telah membuat perekonomian mereka menjerit. “Kalau diperpanjang, saya khawatir beban masyarakat semakin terjepit,” ungkapnya.

Sebagai aktivis serikat buruh, Trisnur juga mendesak pemerintah sebaiknya lebih mendengarkan suara menengah bawah. Dampak pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini, membuat mereka semakin banyak menderita. Serta penghasilan upah semakin berkurang. Sementara, banyak buruh memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Mereka sedang kesulitan membeli beras, tidak bisa membayar tagihan listrik, bayar anak sekolah walaupun Daring tapi bayar tetap berjalan, dan masih banyak beban penderitaan yang harus dipikul sekarang ini,” ungkapnya.

Selain itu, Trisnur berharap Presiden Jokowi jangan terlalu banyak mendengarkan keluhan ketakutan dari kalangan menengah keatas. Pasalnya, ditengah situasi sulit ini, sebagian mereka tidak bekerja saja, masih ada negara yang memberikan gaji. Masih ada deposito Bank yang dapat dimanfaatkan bunganya.

“Sebaiknya Jokowi harus lebih banyak mendengarkan keluhan rakyat miskin, dimana mereka kerja hari ini untuk makan hari ini,” tegasnya.

Dia juga khawatir jika kebijkan PPKM Darurat diperpanjang bisa menambah penderitaan masyarakat kecil. Dan dibalik situasi tak memihak ini bisa saja dimanfaatkan oleh kelompok elit tak bertanggung jawab untuk memperkeruh suasana. Dengan memanfaatkan pihak tangan lain membuat situasi rusuh (chaos).

“Biasanya kalau sudah membawa isu kelaparan, ada sekelompok masyarakat mudah sekali dipancing kerusuhan,” ungkap Trisnur yang secara pribadi pendukung Jokowi di Pilpres 2019.     

Artinya, ketakutan kelas menengah keatas hari ini adalah ketakutan terpapar Covid-19. Namun, bagi golongan menengah kebawah, ketakutannya lebih dari itu. Sebab, bagi rakyat kecil kondisi keluarga mereka kelaparan lebih menakutkan dari pada sekadar virus Corona.  

Trisnur berharap kepada pemerintah agar kebijakan PPKM Darurat diberi kelonggaran untuk masyarakat kelas menengah. Supaya bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Dia juga menduga, mereka yang mengusulkan PPKMdiperpanjang, jangan-jangan ada maksud tersembunyi.

“Saya duga dengan terus teriak perpanjang PPKM Darurat mereka ingin rakyat lapar untuk berontak. Jadi saya memohon kepada Presiden Jokowi bisa mendengarkan suara jeritan dari rakyat kecil,” tutupnya. (AH)