ID ENG

Catatan Akhir 2020, Jangan Pernah Terpuruk Ditengah Pandemi Covid-19

Tanggal Publish: 21/12/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum (Ketum) DPP Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri-Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB GARTEKS-KSBSI) menyampaikan tahun ini adalah persoalan terberat bagi buruh. Sebab, pandemi Covid-19 menyebabkan dunia mengalami krisis global.

“Bahkan Indonesia pun ikut terancam resesi ekonomi. Banyak perusahaan gulung tikar, jutaan buruh korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan. Termasuk buruh di sektor garmen ,kerajinan, tekstil, kulit terdampak,” ujarnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu di Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Pandemi Covid-19 tak membuat FSB GARTEKS KSBSI diam. Tapi  langsung bergerak advokasi anggota yang ter-PHK dan dirumahkan. Semua cabang dan pengurus komisariat melakukan aksi bantuan sosial (Bansos). Memberikan sembako kepada buruh terdampak Covid-19, bekerja sama dengan perwakilan lembaga pemerintah, founding dan swasta. 

Lalu mensosialisasikan protokol kesehatan di perusahaan dan memberikan alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, hand sanitizer kepada buruh untuk mencegah penyebaran virus Corona. “Termasuk membuka membuka posko bantuan hukum buat bukan anggota kami yang terkena PHK dan dirumahkan, seperti di Cabang Kabupaten Serang, Tangerang, Bogor, Semarang, Bandung dan Medan, DKI Jakarta,” pungkasnya.

Dalam penyelesaian masalah korban PHK dan dirumahkan, Ary menyampaikan lebih mengedepankan sosial dialog. Yaitu lobi dan advokasi. Jadi tidak menggunakan sikap emosi ke pihak perusahaan.

“Pandemi ini kan bukan hanya persoalan buruh. Tapi semua sektor terkena imbas, termasuk pengusaha,” ujarnya.

Data terakhir, anggota FSB GARTEKS KSBSI sedang tidak bekerja akibat Cavid-19 mencapai 5000 orang lebih. Belum lagi yang terjadi di serikat buruh/pekerja lainnya, apalagi seorang buruh yang tidak terdaftar di serikat. Untuk mencari solusinya, dia mengatakan organisasinya berinisiatif dan membangun aliansi lintas serikat buruh/pekerja.

Diantaranya dengan TS SPSI, TSK KSPSI, KSPN FSB GARTEKS KSBSI membentuk Aliansi Pekerja/Buruh Garmen, Alas Kaki dan Tekstil Indonesia (APBGATI). Tujuannya melakukan agenda sosial dialog bersama pihak Kementerian Ketenagakerjaan, APINDO, API, APRISINDO dan perwakilan serikat buruh/pekerja.

“Dalam dialog itu lahir kesepakatan ‘joint komitmen’ dan menyepakati jaminan keberlangsungan dunia usaha, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan kerja buruh ditengah pandemi. Serta meminimalisir dampak PHK dan dirumahkan di semua perusahaan. Intinya kami sedang membangun hubungan yang harmonis dengan semua pihak untuk mencari solusi persoalan hubungan industrial dimasa pandemi,” jelasnya.

Bangkit Dari Keterpurukan

Ary menegaskan FSB GARTEKS KSBSI tetap kritis menolak Undang-Undang Cipta Kerja yang sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pemerintah terkesan sangat politis memaksa undang-undang kontroversial itu disahkan tahun ini. Dengan alasan untuk penyerapan tenaga kerja dan kepentingan investor, ditengah pandemi yang menelanjutaan buruh korban kehilangan pekerjaan.

“Kami tidak menentang keseluruhan program omnibus law yang dibuat pemerintah. Yang ditolak adalah dari klaster ketenagakerjaan, karena ada beberapa pasal di Undang-Undang Cipta Kerja yang mendegradasi hak buruh di dunia kerja. Dari soal upah, jaminan kepastian kerja sampai kesejahteraannya,” kata Ary.

Dengan hadirnya Undang-Undang Cipta Kerja yang merugikan buruh itu, Ary mengatakan sebaiknya harus menjadi evaluasi bersama. Ia tak membantah, sampai hari ini gerakan serikat buruh/pekerja di Indonesia belum solid menyikapi isu persoalan buruh.

“Jadi sudah waktunya semua elemen gerakan buruh/pekerja harus bersatu, tidak terpecah lagi,” ujarnya.

Tahun ini juga menjadi persoalan berat bagi buruh terkait soal upah. Sebab terbitnya Surat Edaran (SE) dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) tentang penundaan upah minimum (UMP) pada 2021 jelas memberatkan buruh.

“Justru kami khawatirkan, kalau banyak buruh diberbagai daerah kenaikan upahnya ditunda, kondisi perekonomian mereka semakin terpuruk. Karena kita tidak tahu, kalau tahun depan, semua harga kebutuhan pokok dan rumah kontrakan naik.  Padahal, diprediksi perekonomian Indonesia tahun depan sudah pulih,” ungkapnya.

Karena itu, ditengah situasi pendemi Covid-19, Ary menghimbau bagi buruh yang belum memiliki wadah serikat, sebaiknya bergabung di serikat buruh/pekerja. Atau lebih bagus lagi  serikat buruhnya yang mempunyai jejak rekam membela anggotanya.

Kalau seorang buruh bergabung tingkat perusahaan, dia mengatakan perlindungan dan advokasinya sangat dipertanyakan. Jadi, ada baiknya buruh tersebut bergabung di serikat buruh/pekerja yang memiliki jaringan nasional sampai internasional. Karena posisi tawarnya telah teruji membela hak-hak buruh.

Tahun ini, Ary menerangkan dampak Covid-19 menjadi tantangan FSB GARTEKS KSBSI dalam merekrut anggota serta membuka cabang baru. Termasuk juga dalam agenda pelatihan dan sosialisasi Gender Bassed Violence (GBV) di tingkat perusahaan.

“Semoga tahun depan, agenda GBV bisa dilakukan lobi dimasukan ke Perjanjian Kerja Bersama (PKB) kepada perusahaan yang sudah mengapresiasinya,” ujarnya.

Terakhir, Ary menegaskan bahwa Covid-19 buka menjadi alasan FSB  GARTEKS KSBSI menyerah dengan keadaan. Justru harus bangkit dari keterpurukan, melakukan pengorganisiran anggota diwilayah baru. Salah satunya di daerah Jawa Tengah yang sekarang ini ditargetkan menjadi wilayah industri. (AH)