ID EN

BPS: Minat Petani Menurun, Lebih Memilih Sektor Industri

Tanggal Publish: 06/02/2019, Oleh: DPP FSB Garteks

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di pedesaan di akhir tahun 2018 meningkat. Alasan jumlah pengangguran di desa meningkat disebabkan karena lahan pedesaan telah berubah menjadi lahan sektor industri. Atau ada juga yang pergi meninggalkan desa menuju kota (urbanisasi) untuk bekerja di sektor industri. BPS juga menyampaikan laporannya jumlah pengangguran di pedesaaan akhir tahun 2018 pada bulan Agustus sebesar 5,34 persen.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah menggalakan program ‘Padat Karya Tunai’ di pedesaan tahun lalu. Namun, apa faktanya, program tersebut kurang begitu berdampak, karena masyarakat desa mengalami penurunan menjadi seorang petani. Disisi lain, pengangguran terbuka berdasarkan versi BPS di akhir tahun 2018 juga mengalami penurunan. Tercatat jumlah pengangguran terbukan di tahun 2018 sebesar 7 juta orang.

Sementara, presentase angkatan kerja diwilayah perkotaan mengalami peningkatan dari 128,06 juta orang menjadi 131,01 juta orang. Atau jumlah pengangguran diwilayah perkotaan menurun sebesar 6,45 persen. BPS tak membantah, jika kenaikan angkatan kerja diwilayah perkotaan memang tak sebanding dengan diwilayah pedesaan.

Suhariyanto, Kepala BPS, dalam keterangan pers nya kepada awak media menjelaskan jumlah pengangguran meningkat akibat minat petani memilih bekerja sebagai petani menurun. Ketika para petani ingin beralih bekerja di sektor industri juga tidak memilih keahlian. Artinya, dia menilai posisi yang dihadapi masyarakat desa sekarang ini sedang mengalami dilematis, karena keinginan mereka bekerja di sektor industri tinggi untuk merubah nasib. Namun keinginan itu belum terealisasi karena minimnya keahlian dalam sektor industri.

Dia juga menyinggung kaum urbanisasi yang mencari pekerjaan di kota, seperti wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok (Jabotabek) dan kota lainnya ternyata sangat minim terserap dalam sektor industri. Seperti diwilayah provinsi Banten, banyak warga diluar yang datang ke wilayah itu untuk mencari pekerjaan, tapi belum terserap. Sehingga, catatan BPS, tingkat pengangguran di Banten sekarang ini sebesar 8,52 persen.

“Sebagian pengangguran yang ada diwilayah Banten berasal dari warga pendatang. Mereka datang ke Banten ingin mencari kerja, karena dibeberapa wilayah Banten terdapat area sektor industri,” ucapnya.  

Menyikapi fenomena tersebut, Suhariyanto menjelaskan sedang melakukan pengkajian mendalam. Dia juga agak keberatan, terkait program padat karya tunai yang tahun lalu digelontorkan Presiden Jokowi diwilayah pedesaan gagal. “Kami akan membuat survey kembali. Metode survey yang akan dilakukan nanti langsung membedah persoalan alasan masyarakat desa lebih memilih bekerja di sektor industri dan mencari solusinya,” tutupnya. (AH)