ID ENG

Bakat Kepemimpinan Buruh Perempuan di FSB GARTEKS Terlihat Mengalami Kemajuan

Tanggal Publish: 23/11/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Trisnur Priyanto Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri (DPP FSB GARTEKS) menyampaikan kader-kader buruh perempuan di serikat buruhnya menjelang akhir 2021 banyak mengalami kemajuan. Khususnya dalam kepemimpinan, karena mereka sudah semakin berani mengambil peran dalam berorganisasi. 

“Walau belum mencapai target, tapi kalau saya lihat kemajuannya baik dari tingkat Pengurus Komisariat (PK) Dewan Pengurus Cabang (DPC) semakin terlihat setiap tahun,” ucapnya, saat diwawancarai disela agenda Women Conference and Leadership Training FSB GARTEKS yang diselenggarakan di Hotel Remaja PGI, dari tanggal 22-24 November 2021, Puncak Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Lanjutnya, bukti peningkatannya adalah setiap ada kegiatan pelatihan yang diadakan FSB GARTEKS, mereka mulai berani bertanya dan memberikan pendapat didepan forum diskusi. Kemudian sudah banyak terlibat dalam kepanitiaan acara serta mengambil keputusan dalam rapat.

“Salah satu kunci keberhasilannya DPP FSB GARTEKS 2018 lalu pertama kali membuat momen  Women Conference and Leadership Training. Tujuannya memang untuk menaikan kwalitas kepemimpinan buruh perempuan,” ujarnya.

Kemudian, memberikan pengkaderan kepemimpinan organisasi serta pelatihan stop Gender Bassed Violence (GBV), hak kesetaraan gender juga hasilnya sangat efektif. Termasuk melibatkan mereka dalam kampanye menolak diskriminasi serta pelecehan dan kekerasan seksual di dunia kerja.    

“Tujuan kami ketika ada buruh perempuan bergabung di FSB GARTEKS tidak hanya duduk diam dan menonton. Tapi harus melibatkan mereka menjadi aktif dan berperan sebagai pengambil keputusan organisasi dan ditempat perusahaannya bekerja,” jelasnya.

Artinya, secara perlahan Trisnur Priyanto menerangkan karakter kepemimpinan buruh perempuan di FSB GARTEKS dari tingkat bawah sampai atas sudah ada perkembangan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan beberapa tahun  lalu, dimana minat mereka sangat minim mengambil tanggung jawab mengurus serikat buruh.      

“Bahkan pada agenda Rakernas FSB GARTEKS beberapa tahun lalu di Sumatera Utara, keterlibatan anggota buruh perempuan hadir dalam acara ini sangat minim,” terangnya.

Lalu DPP FSB GARTEKS pun mulai merubah pola garakannya, diantaranya membuat kampanye dan advokasi dan pelatihan kepemimpinan buruh perempuan. Setelah 3 tahun lebih dijalankan akhirnya membuahkan hasil.

“Buktinya, acara Women Conference and Leadership Training FSB GARTEKS tahun ini pesertanya mayoritas buruh perempuan perwakilan dari tiap cabang,” terangnya.

Mengingat potensi kader-kader buruh perempuan di FSB GARTEKS semakin banyak, Trisnur Priyanto menyampaikan pihaknya sudah mendesain akan membuat regenerasi kepemimpinan. Ada kader yang akan ditempatkan di struktur internal organisasi dan ada juga diluar itu dalam rangka memperkuat posisi tawar organisasi.

“Intinya, masa kepengurusan dati tingkat DPP, DPC dan PK pasti nantinya bakal berakhir. Jadi, sebagian dari srikandi-srikadi FSB GARTEKS yang memiliki bakat ini yang akan disiapkan sebagai regenerasi kepemimpinan serikat buruh,” tuturnya.

Selain itu, tolok ukur kemajuan buruh perempuan di FSB GARTEKS adalah jumlah pengurus dari tingkat PK dan DPC setiap tahun terus bertambah. Sebelumnya, total dari keseluruhan hanya mencapai 15 persen. Lalu bertambah 20 persen dan tahun ini menjadi 30 persen.

“Mudah-mudahan pada 2022 nanti  jumlahnya semakin bertambah untuk mencapai target kuota 40 persen, agar dinamika organisasi semakin terlihat,” ujarnya.

Trisnur Priyanto menargetkan, hasil dari acara Women Conference and Leadership Training FSB GARTEKS untuk jangka pendeknya, setiap peserta semakin memiliki rasa percaya diri. Bisa tampil berbicara dan bersikap kritis di tingkat PK. Kemudian mereka harus sudah bisa melakukan edukasi dan mengajak buruh perempuan yang belum berserikat untuk masuk FSB GARTEKS.

Untuk jangka menengahnya, mereka sudah harus berani tampil bicara serta memberikan ide maupun gagasan ditingkat cabang maupun terlibat menjadi pengurus. Nah untuk langkah kedepannya memang sedang mempersiapkan mereka bisa tampil menjadi pemimpin serikat buruh tingkat nasional.

“Saya berharap kepemimpinan FSB GARTEKS ditingkat nasional bisa kembali dipimpin oleh perempuan. Karena sektor industri garmen dan tekstil itu kan pada umumnya buruhnya adalah perempuan. Jadi sangat wajar perempuan yang memimpin agar posisi tawar semakin tinggi,” tutupnya. (AH)