ID ENG

Aktivis GMNI Sambangi DPC FSB GARTEKS Tangerang Raya, Bahas Isu Perburuhan

Tanggal Publish: 30/04/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Pada Kamis (30/4/21) Dewan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kabupaten Tangerang menyambangi Kantor DPC Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri (FSB GARTEKS) Tangerang Raya, untuk bersilaturahim. Pertemuan ini membahas isu-isu perburuhan, sekaligus memperkuat jaringan lintas organisasi.

Erwinanto Ketua Bidang Konsolidasi DPC FSB GARTEKS KSBSI Tangerang Raya mengatakan sangat mengapresiasi kunjungan aktivis GMNI yang bersimpati dengan perjuangan serikat buruh. Aktivis buruh dan mahasiswa ini menyadari, bahwa situasi lintas pergerakan hari ini telah terkotak-kotak dan tidak solid.

“Kedatangan kawan-kawan pengurus GMNI Kabupaten Tangerang sangat kami sambut baik. Semoga kedepannya bisa saling berkolaborasi menyikapi kebijakan perburuhan serta isu lainnya yang tidak memihak dalam gerakan kontrol sosial,” katanya, saat diwawancarai melalui seluler (31/4/21).

Aktivis GMNI juga ikut mendukung sikap serikat buruh yang tetap konsisten menolak pasal-pasal Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang merugikan masa depan buruh. Intinya, FSB GARTEKS tidak menolak keseluruhan undang-undang tersebut. Namun ada beberapa pasal yang dinilai mendegradasi hak buruh dan perlu uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK).        

“Kami anggap, UU Cipta Kerja saling tumpang tindih dengan UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Jadi dengan banyaknya aturan ini bisa jadi akan menyebabkan polemik baru. Sebab, serikat buruh dan pengusaha punya tafsiran masing-masing dalam penyelesaian hubungan industrial,” tegasnya.

Dalam dialog itu juga dibahas persiapan menyambut agenda May Day serta mengupas masalah kebijakan pemerintah terkait Tunjangan Hari Raya (THR) dimasa pandemi Covid-19. Intinya, Erwin mengatakan kalau ada pengurus dan anggota yang ingin bergabung organisasinya untuk memperjuangkan buruh, FSB GARTEKS siap membuka pintu.

“Karena kami baru tahu, bahwa ada juga kawan-kawan GMNI yang statusnya bekerja sambil kuliah. Jadi kalau ada masih bekerja silahkan bergabung, jika ada keinginan ikut berjuang bersama buruh,” jelasnya.

Erwin juga menerangkan bahwa serikat buruh itu tidak hanya mengedepankan aksi demo. FSB GARTEKS adalah gerakan yang harus beradaptasi sesuai perkembangan zaman. Karena itu, pola gerakan sosial dialog dengan pemerintah dan pengusaha rutin dilakukan.

“Serta konsisten melakukan program pelatihan dan pendidikan kepada pengurus cabang, komisariat dan anggota untuk menguatkan kwalitas Sumber Daya Organisasi (SDM),” ungkapnya.      

Intinya, Erwin mengatakan karakter gerakan serikat buruh dengan mahasiswa memang berbeda dan terkadang memang masing-masing ada resiko saat aksi unjuk rasa. Tapi dia menjelaskan, buruh memiliki resiko waktu demo di perusahaan maupun dijalanan.

“Contohnya, bisa saja buruh setelah melalukan demo, langsung kehilangan pekerjaan karena si pengusaha tidak suka dengan aksi itu. Sehingga buruh akhirnya kehilangan mata pencaharian untuk keluarganya,” ucap Erwin.

Terakhir, dia berharap agar silaturahim ini kedepannya bisa diwujudkan untuk saling bersinergi dalam wujud aksi nyata. Seperti melakukan aksi demo bersama, kegiatan sosial dan saling membuka ruang diskusi menyikapi berbagai isu nasional dan lokal. (AH)