ID EN

Aktivis Buruh Juga Harus Meningkatkan Kemampuan Loby

Tanggal Publish: 19/09/2018, Oleh: DPP FSB Garteks

DPP Garteks KSBSI kembali mengadakan agenda pelatihan “Training Of Training Lobby and Advocacy”, kepada pengurus tingkat cabang dari berbagai daerah. Agenda pelatihan yang bekerja sama dengan CNV Internasional tersebut diadakan di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur, tanggal 17 September 2018. Berdasarkan pantauan, tampak hadir Ary Joko Sulistyo dan Trisnur Priyanto (Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal FSB Garteks KSBSI), Elly Rosita Silaban (DEN KSBSI) dan pengurus pusat lainnya.


Sementara itu, Manoon, perwakilan dari CNV Internasional dipercaya untuk memberi materi pelatihan tersebut. Acara yang berlangsung dari pagi sampai sore hari terlihat antusias oleh seluruh peserta dari materi-materi yang disampaikan. Pada umumnya juga, peserta yang mengikuti pelatihan tentang loby dan advokasi. Jadi, ketika mereka mengikuti pelatihan, merasa beruntung karena mendapat pengetahuan baru. Diharapkan juga, ilmu loby dan advokasi yang didapat itu bisa direalisasikan di tiap cabang, ketika terjadi perselisihan ketenagakerjaan antara serikat buruh dan perusahaan.


Dalam pemaparannya, Manoon, menerangkan di era globalisasi sekarang ini tantangan serikat buruh semakin berat dan penuh ragam. Terutama, tantangan kemampuan aktivis serikat buruh dalam meningkatkan keahlian taktik loby dan advokasi untuk menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan. Sebagai contoh, selama ini ketika terjadi persoalan ketenagakerjaan dalam perusahaan, serikat buruh terbilang unggul melakukan advokasi.


Namun dalam keputusan akhir memenangkan advokasi buruh, serikat buruh masih sering kalah. Akibat dari kekalahan itu, berdampak seperti kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap anggotanya. Manoon menegaskan, kekalahan advokasi itu dikarenakan aktivis serikat buruh masih banyak yang lemah dalam kualitas diplomasi dalam urusan loby untuk mempengaruhi pihak lawan.


“Strategi meloby pihak lawan dari pimpinan perusahaan (HRD dan Manajemen Perusahaan) bukan lah hal yang tabu, selama serikat buruh tetap mempertahankan prinsip-prinsip yang sedang diperjuangkan. Inti tujuan meloby pihak lawan sebenarnya untuk mempengaruhi pikiran mereka, agar mereka berbalik mendukung apa yang sedang kita perjuangkan,” tandasnya.


Oleh sebab itulah, pelatihan loby dan advokasi, bertujuan membangun paradigma baru di pengurus serikat buruh di FSB KSBSI, bahwa melakukan perjuangan advokasi buruh tidak hanya mengandalkan kekuatan advokasi. Tapi harus seimbang dengan kekuatan diplomasi untuk meloby pimpinan perusahaan dan pemerintah dalam memperjuangkan upah layak. Termasuk urusan meloby posisi tawar perjanjian kerja bersama (PKB) dengan pimpinan perusahaan.


Manoon juga menegaskan, tidak ada yang perlu ditabukan dalam strategi meloby pimpinan perusahaan dan pejabat pemerintah yang terkait dalam memperjuangkan hak-hak buruh. Sebab, strategi loby bagian dari alat perjuangan serikat buruh untuk meyakinkan dan mempengaruhi agar pihak lawan juga memahami prinsip-prinsip kebenaran yang sedang diperjuangkan. Sebab, hasil dari perjuangan loby sebenarnya adalah tidak ada yang kalah dalam mempertahankan kepentingan. Melainkan kedua belah pihak sama-sama menang atau disebut solusi jalan tengah (win-win solution).

Ary Joko Sulistyo, mengatakan dengan digelarnya pelatihan loby dan advokasi untuk pengurus tingkat cabang, merupakan program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di FSB Garteks KSBSI. Dia juga menyampaikan, salah satu target yang dipimpinnya sekarang ini, bagaimana menciptakan pengurus tingkat cabang yang berkualitas dalam kemamouan komunikasi berdiplomasi loby.


“Kedepannya kami akan berkomitmen melakukan pelatihan advokasi dan loby, karena memang sudah menjadi kebutuhan organisasi di era sekarang ini. Sebab, dalam melakukan pembelaan buruh, tidak hanya advokasi saja yang harus unggul. Kemampuan meloby pihak lawan juga sangat diperlukan untuk melunakan argumentasi lawan,” ujarnya.
Acara pelatihan diikuti dari pengurus tingkat cabang seperti dari DPC Kabupaten Serang, Tangerang, Subang, Bandung Kota, Bogir, Majalengka, Wonogiri, Sukoharjo, Semarang dan Medan. Jumlah peserta yang hadir ada 30 orang. (AH)