ID ENG

Ahmad Munir-Achmad Didapuk Memimpin DPC FSB GARTEKS Kota Bandung dan Ini Harapannya

Tanggal Publish: 07/06/2021, Oleh: DPP FSB Garteks

Dewan Pengurus Cabang Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri afiliasi dari Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DPC FSB GARTEKS KSBSI) Kota Bandung Jawa Barat menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke III di kota Bandung Jawa Barat, Minggu (6/6/21). Acara tersebut juga dihadiri Tri Pamungkas dan Wira Kacaw perwakilan DPP FSB GARTEKS.

Hasil dari konfercab itu, peserta mempercayakan Ahmad Munir dan Ahmad sebagai Ketua Cabang dan Sekretaris DPC FSB GARTEKS Kota Bandung. Acara penyerahan mandat kepemimpinan langsung diberikan ketua cabang demisioner Agus Saefudin. Dan ia berharap kedua pemimpin yang terpilih bisa membawa amanah perubahan organisasi menjadi lebih baik.

Ahmad Munir Ketua Cabang FSB GARTEKS Kota Bandung mengatakan langkah yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini segera melakukan agenda konsolidasi internal. Dari dari tingkatan pengurus cabang dan anggota. Salah satu keinginan yang diharapkannya bisa kembali menjadi serikat buruh yang memiliki karakter kritis untuk memihak kepentingan masyarakat.

“Untuk menjadi serikat buruh yang kritis dan terdidik, FSB GARTEKS Kota Bandung nanti akan memulai kaderisasi kepada Pengurus Komisariat (PK) dan anggota. Supaya nantinya regenerasi kepemimpinan juga berjalan,” ucapnya, saat diwawancarai melalui seluler.

Dalam pengembangan organisasi, Ahmad Munir mengakui kota Bandung dan sekitarnya saat ini bukan lagi wilayah industri, salah satunya di sektor industri garmen, tekstil, sepatu dan alas kaki (TGSL). Sebab perusahaan di sektor tersebut sudah ekspansi ke wilayah Jawa Tengah dan berdampak pada jumlah anggota buruh di FSB GARTEKS Kota Bandung mengalami penyusutan.

 “Kami akan memulai gerakan baru dengan mengorganisir di sektor jasa sembari mempersiapkan tim organiser untuk merekrut buruh,” terangnya.

Dalam memperkuat posisi tawar FSB GARTEKS Kota Bandung, Ahmad Munir mengatakan akan merubah tetap mengedepankan agenda dialog sosial. Namun dia menegaskan, serikat buruhnya tidak akan menjadi serikat buruh yang gampang ditundukan oleh penguasa. Tapi harus bisa independen dan menyuarakan hak-hak kesejahteraan buruh.

“Kami akan mendukung pemerintah kalau kebijakannya memihak pada buruh seperti dalam memutuskan soal penetapan upah. Kalau tidak berpihak, pasti akan ada sikap kritis untuk melakukan perlawanan, seperti aksi demo,” tegasnya.

Menurutnya, sejauh ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kota Bandung sudah memperhatikan kepentingan buruh. Seperti kebijakan memberikan fasilitas ‘bis buruh’, karena sejak awalnya memang ada tuntutan dari aliansi serikat buruh/pekerja. Artinya, dirinya setuju gerakan buruh mengedepankan dialog sosial.

“Tapi selama menjalankan agenda dialog sosial, Sumber Daya Manusia (SDM) setiap pengurus FSB GARTEKS Kota Bandung harus memiliki kepemimpinan intelektual yang baik. Agar posisi tawar kuat dihadapan pemerintah dan pengusaha. Seperti menetapkan upah layak dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB),” ungkapnya.

Terakhir, Ahmad Munir menargetkan selama 4 tahun kepemimpinannya nanti dia berupaya akan membuat FSB GARTEKS Kota Bandung menjadi serikat buruh yang diperhitungkan. Intinya, tahun ini, konsolidasi internal dan pengkaderan menjadi prioritas utama yang segera dilakukannya bersama pengurus yang terpilih.

“Setelah program pengkaderan berjalan baik, kami akan fokus pengembangan organisasi untuk menambah jumlah anggota dan PK tingkat perusahaan,” tutupnya. (AH)