ID ENG

2000 Buruh Demo di PT Kaho ICG, Ini Tuntutannya

Tanggal Publish: 27/02/2020, Oleh: DPP FSB Garteks

Dianggap pihak manajemen perusahaan tidak mendengarkan aspirasi, akhirnya 2000 buruh/pekerja melakukan aksi demo di halaman PT Kaho Indah Citra Garment (ICG), Cakung, Jakarta Timur. Sebelum melakukan aksi demo, pihak perwakilan serikat buruh/pekerja yang ada di perusahaan ini sudah melakukan upaya perundingan.

Namun apa daya, upaya dialog tersebut tidak ada titik temu. Kabarnya pihak manajemen perusahaan tetap bersikukuh tak mau mendengarkan tuntutan. Akhirnya, solusi yang diambil oleh buruh/pekerja di PT Kaho ICG memutuskan aksi demo. Rencana demo ini pun direncanakan dari 26-28 Februari 2020.

Yumana Sagala, Ketua Pengurus Komisariat FSB Sandang GARTEKS Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) mengatakan aksi demo karena memang sudah tak ada titik temu dengan manajemen perusahaan.

“Upaya perundingan sudah kami lakukan, tapi tak ada titik temu. Pihak perusahaan tak menggubris tuntutan kami, jadi wajar buruh/pekerja menentukan sikap aksi demo,” ucapnya dalam keterangan pers, 27 Februari 2020.

Intinya, Yumana menegaskan demo buruh tidak dilakukan hari ini saja. Namun aksi tetap dilakukan kalau pihak manajemen perusahaan tetap tutup mata tidak mau mendengarkan suara buruh/pekerja di PT Kaho ICG.

“Kalau tidak dipenuhi kemungkinan besar akan terjadi demo lanjutan. Kami akan melakukan aksi mogok kerja bersama federasi serikat buruh dan pekerja yang ada di perusahaan ini,” jelasnya.

Dalam aksi ini, ada tiga tuntutan yang disuarakan buruh/pekerja diantaranya:

  1. Menuntut kenaikan upah harus sesuai dengan kenaikan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) DKI Jakarta berdasarkan Pergub No.10 tahun 2020 dan presentasi kenaikannya harus disesuaikan.
  2. Akibat dampak bencana banjir, upah buruh/pekerja tidak boleh dipotong dengan alasan cuti sepihak. Sesuai dengan perjanjian kerja bersama dan yurisprudensi kebiasaan yang terjadi di perusahaan, karena bagaimanapun bencana banjir adalah kasus Force Majure yang tidak diinginkan terjadi.
  3. Permudah fasilitas fasilitas untuk kesejahteraan buruh/pekerja.

Selain itu, Yumana mengungkapkan bahwa hubungan serikat buruh/pekerja dengan pihak manajemen perusahaan sedang tidak harmonis. Namun ditengah ketidakharmonisan ini, ia mengatakan perwakilan serikat buruh/pekerja telah berupaya melakukan dialog untuk mencari solusi.

FSB Sandang Garteks KSBSI bersama Serikat Pekerja Nasional (SPN-KSPI), sudah pernah melakukan proses Bipartit dengan pihak manajemen perusahaan. Namun pihak manajemen tidak ada tindaklanjut pembahasan.

“Bahkan perwakilan buruh/pekerja pun kembali melayangkan surat untuk upaya melakukan Bipartit kembali. Tapi pihak manajemen mengabaikannya. Justru terkesan sengaja dan menantang untuk memperselisihkannya ke tingkat tripartite,” ungkapnya.

Ia menduga ketidakharmonisan yang terjadi ini memang ada sebuah konspirasi yang dilakukan oleh manajemen dengan melibatkan pihak ketiga. Khususnya unsur pemerintah oknum dari Sudinakertrans & Energi Jakarta Utara. Karena dari pengakuan pihak manajemen untuk masalah ini sudah dianggap aman meskipun harus di bawa ke perselisihan tingkat tripartit.

“Kami mendesak Kepala Sudinakertrans & Energi Jakarta Utara segera menindak oknum pengawas ketenagakerjaan Sudinakertrans & Energi Jakarta Utara. Kalau tidak ditanggapi, kami akan aksi demo bersama membersihkan oknum tersebut yang jadi penyebab masalah ketidakharmonisan,” tandasnya.

Akhirnya, hasil mediasi antara perwakilan buruh/pekerja dengan pihak perusahaan menemukan titik terang. Dalam dialog itu, pihak perusahaan menyetujui tuntutan aksi demo dan berjanji akan memperbaiki hubungan agar kembali menjadi harmonis. (AH)